Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

Saya sangat bersyukur atas rahmat panggilan yang Tuhan berikan kepada saya dalam biara CSE. Dan, sampai saat ini saya tidak pernah menyesal atas panggilan suci dan mulia ini. Saya percaya Tuhanlah yang memanggil dan memilih saya menjadi seorang rahib pertapa dan sampai akhirnya saya tinggal di Padang Gurun CSE. Saya teringat akan sabda Tuhan, “Mari, ikutlah Aku dan engkau akan kujadikan bahagia.” Inilah suatu panggilan yang tidak bisa ditunda lagi, suatu misteri panggilan hidup panggilan.

 

AWAL PANGGILAN

Keinginan untuk masuk biara sudah ada sejak umur 9 tahun ketika saya duduk di kelas IV SD. Ada sebuah peristiwa yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu saya menerima Komuni Pertama pada tanggal 21 Oktober 1978 yang merupakan cinta pertamaku pada Tuhan Yesus. Saya menerima Yesus dalam hati saya pada Komuni Pertama dan saya berdoa, “Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mau berkunjung di dalam hatiku. Hari ini aku menjadi milik-Mu dan aku mau mengikuti Engkau lebih dekat.” Hati saya diliputi oleh sukacita, damai, dan bahagia saat itu.

Ketika Misa Komuni Pertama berlangsung, saya memandang seorang imam Kapusin yang sangat sederhana yang memakai jubah cokelat. Romo itu menceritakan dalam khotbahnya bagaimana ia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi imam. Dari pengalaman dan kesederhanaan hidupnya, saya tertarik untuk masuk biara. Itulah awal panggilan saya. Setelah misa berakhir, imam tersebut menyalami kami yang baru menerima komuni pertama. Ketika imam tersebut sampai kepada saya, saya langsung mengatakan kepadanya, “Romo, boleh saya pakai jubahnya? Saya sangat tertarik dengan jubah ini.” Romo tersebut tersenyum dan berkata sambil memeluk saya, “Nanti kalau kamu sudah besar boleh memakai jubah ini.” Sejak saat itulah panggilan awalku mulai tumbuh.

 

MEWUJUDKAN PANGGILAN

Saya mempunyai dua cita-cita, yaitu masuk biara atau menjadi tentara. Setelah saya utarakan cita-cita saya ini kepada orang tua saya, mereka tidak menyetujui dan menentangnya. Di tengah kebingungan, saya terus berdoa kepada Tuhan supaya orang tua saya setuju dan saya bisa memilih yang terbaik. Saya berdoa novena dan pada hari yang kesembilan, saya berziarah ke salah satu Gua Maria di Anjungan yang tidak terlalu jauh dari kampung saya. Waktu itu hari Jumat tanggal 15 Agustus 1990, tepat pada Hari Raya Santa Maria Diangkat Ke Surga.

Di sana saya berdoa rosario dan menyampaikan keluhan saya agar dapat mengambil keputusan dalam panggilan dan cita-cita saya. dalam suasana hening dan sunyi, tanpa saya sadari, air mata saya keluar dan ada rasa damai di dalam hati saya. Setelah itu saya duduk diam melakukan meditasi sampai tertidur. Antara sadar dan tidak sadar, saya mendengar ada suara yang sangat lembut mengatakan, “Anakku, jangan takut! Engkau akan kujadikan tentara Putraku.” Setelah mendengar suara itu, hati saya diluputi oleh kedamaian dan sukacita yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Saya yakin bahwa Bunda Maria yang berbicara saat itu kepada saya. Dan, saya menjadi yakin akan keputusan saya untuk masuk biara. Namun, masih ada dua hal yang harus saya hadapi, yaitu persetujuan orang tua saya dan pacar saya.

Puji Tuhan, Dia telah mengatur semuanya. Sepulang dari ziarah dan mengalami peneguhan itu, saya sampaikan niat saya untuk masuk biara kepada orang tua saya. “Kalau itu cita-cita dan keinginanmu, kami tidak melarang dan menghalangimu,” kata mereka. Mendengar perkataan mereka, saya merasa seperti disambar petir karena sebelumnya mereka menolaknya. Hal yang sama saya utarakan pula kepada pacar saya. “Saya tidak bisa mendampingimu karena ada cinta yang begitu mengikat hatiku. Dan, saya tidak mau cinta itu terbagi-bagi. Dia sangat sayang dan cinta padaku dan padamu juga,” demikian kata saya kepadanya. Rupanya, ia mengerti bahwa saya akan masuk biara. Maka, ia rela melepaskan saya dan dengan rasa haru ia juga mengungkapkan bahwa ia juga ingin menjadi suster. Puji Tuhan, sekarang ia sudah menjadi suster yang baik dan saleh di salah satu biara di daerah saya. Sekarang dia sudah berkaul kekal dan kami masih saling mendoakan agar tetap setia sampai akhir.

Saya memiliki kerinduan untuk masuk biara kontemplatif karena sejak kecil saya sangat mencintai keheningan dan kesunyian. Lalu saya menemukan alamat biara kontemplatif dari seorang bapak yang aktif dalam pelayanan karismatik. Lewat beliaulah saya memperoleh informasi tentang biara kontemplatif CSE. Tanpa banyak menunda, saya langsung menulis surat kepada pimpinan biara CSE, yaitu Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm. Surat saya pun dibalas dengan disertai brosur tentang CSE dan Putri Karmel. Saya senang sekali. Setelah dua kali menulis surat, Rm. Yohanes mengatakan bahwa saya diterima. Karena waktu itu saya masih kuliah Diploma Kateketik Filial IPI Malang di Pontianak, maka saya bertanya kepada Romo, “Kapan saya boleh datang?” Romo katakan bahwa saya harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Saya merasa agak kecewa karena saya harus menunggu satu tahun lagi, sedangkan keinginan untuk masuk biara sudah tidak tertahankan lagi. Akhirnya, saya gunakan waktu satu tahun itu untuk menyelesaikan kuliah sambil pelayanan di daerah pedalaman Kalimantan Barat, berdoa, dan mengikuti kegiatan rohani lainnya di Pontianak. Selesai menamatkan Diploma Kateketik, saya berangkat untuk memenuhi panggilan Tuhan di biara kontemplatif CSE.

 

MASA POSTULAT

Tanggal 9 Agustus 1994, saya diterima sebagai postulan bersama sembilan saudara lainnya. Masa Postulat saya jalani kurang lebih dua bulan saja, berbeda dengan saudara seangkatan yang lainnya. Maka, pada tanggal 1 November 1994 saya memasuki masa Novisiat.

Bagi saya, masa Postulat sangat berharga karena saya mulai menanam benih panggilan di tanah yang subur dan kaya akan spiritualitas di ladang biara CSE. Saya mulai mengenal lebih dalam tentang kehidupan CSE yang kaya akan karunia Roh Kudus, kuat akan devosi kepada Roh Kudus dan Sakramen Ekaristi. Pada masa ini, saya banyak mengalami hiburan rohani yang sangat membahagiakan saya. Masa Postulat merupakan masa untuk membangun fondasi hidup membiara saya dalam menghayati perjalanan panggilan selanjutnya.

Secara perlahan, saya mulai menyadari akan kecintaan dan kerinduan pada Tuhan Yesus di dalam keheningan dan kesunyian, kasih kepada sesama, berdoa, dan bermati raga. Saya mulai berdoa bagi banyak orang, bagi dunia, Gereja, kongregasi, keluarga-keluarga, dan para pendosa agar mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan.

 

MASA NOVISIAT

Pengalaman rohani di masa Novisat ini tidak bisa saya lupakan. Sungguh menyenangkan dan membahagiakan karena saya boleh mengalami kasih Tuhan yang luar biasa. Saya merasakan kehadiran Tuhan dalam doa-doa saya—Ekaristi, adorasi, ibadat harian, lectio divina—dalam hidup bersama-sama saudara sekomunitas, dalam pekerjaan harian, dan dalam setiap peristiwa hidup sehari-hari. Devosi kepada Bunda Maria juga menguatkan panggilan saya. Apabila saya mengalami kesulitan atau krisis dalam menjalani kehidupan panggilan, saya datang dan berdoa bersama Bunda Maria. Selama dua tahun saya jalani masa Novisiat ini. Dan, pada masa ini pulalah mulai bersemi panggilan untuk hidup di Padang Gurun.

 

MASA PROFESI DAN HIDUP DI PADANG GURUN

Setelah dua tahun menjalani masa Novisiat, saya semakin yakin akan panggilan Tuhan yang luhur dan mulia ini. Saya merasa bahwa Tuhan sendiri yang memanggil saya untuk menyertai dan hidup bersama Dia dalam doa, tapa, dan mati raga dalam cara hidup yang tersembunyi untuk pelayanan seluruh umat manusia di dunia. Maka, pada tanggal 20 Juli 1996, saya mengucapkan kaul pertama saya. Betapa bahagianya saya saat itu karena boleh memberikan diri kepada Tuhan melalui Kongregasi CSE. Kebahagiaan saya semakin besar karena satu bulan kemudian—28 Agustus 1996—saya diperkenankan untuk mencoba kehidupan panggilan di Padang Gurun CSE. Kerinduan saya untuk mencintai Tuhan dalam keheningan dan kesunyian Padang Gurun membuat saya lebih bersemangat untuk melayani dunia, umat manusia, dan Gereja melalui kurban-kurban, doa, mati raga, dan puasa.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena boleh mengalami kehidupan di Padang Gurun, suatu kebahagiaan dan sekaligus perjuangan. Hidup di Padang Gurun harus terus-menerus menyangkal diri, melawan godaan setan, dan melawan kelemahan diri sendiri. Iblis biasanya menggoda saya dengan mengatakan, “Untuk apa kamu tinggal di Padang Gurun? Kamu masih muda! Nikmatilah dunia ini! Rugi kalau kamu tidak mengalaminya!” Syukur kepada Tuhan, hingga kini saya masih setia kepada panggilan Tuhan. Saya yakin Tuhan tidak pernah membiarkan anak-Nya dicobai melampaui kemampuannya. Dengan hidup di hadirat Allah dan mengulang-ulang nama Yesus, setia pada doa-doa, membuat saya tetap setia dan bertahan. Saya yakin bahwa setiap jiwa yang dibaktikan kepada Allah akan senantiasa melihat Allah di dalam hatinya. Melalui alam yang indah, jiwa saya selalu diajak untuk bersyukur dan memuji-Nya.

Tibalah saatnya untuk mengajukan lamaran profesi kekal. Saya berdoa kepada Tuhan dan bertanya apakah saya layak untuk memberikan diri saya seumur hidup kepada-Nya. Dalam doa itu saya mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Saya yakin bahwa Tuhan akan membantu, membimbing, dan menguatkan saya. Oleh karena itu, saya mengambil motto kaul kekal: “Yesus harus makin besar dan aku harus semakin kecil” (Yoh 3:30). Motto ini saya ambil sekaligus untuk mengingatkan saya bahwa Yesuslah yang selama ini lebih besar dalam hidup saya dan saya harus semakin kecil dan bersandar pada-Nya.

Namun, seminggu sebelum berakhirnya Retret Pribadi untuk persiapan kaul kekal, saya mengalami cobaan yang paling berat dan sangat hebat dibandingkan dengan yang sudah pernah saya lewati. Waktu itu dalam pikiran saya hanya ada dua pilihan, yaitu keluar dari biara atau melarikan diri dari cara hidup ini. Pikiran saya betul-betul buntuk dan tidak menentu saat itu. Kemudian Tuhan kembali menyapa saya dengan berkata, “Akulah yang memilih kamu, mengapa engkau ragu?” Saai itu saya menangis cukup lama sambil menyesal dan mohon ampun pada-Nya. Kemudian saya membulatkan tekad untuk setia sampai akhir. Di sinilah saya mengucapkan janji setia kekal saya di hadapan Tuhan sebelum di hadapan manusia.

Setelah mencoba menjalani kehidupan di Padang Gurun, akhirnya saya menemukan panggilan saya yang sesungguhnya, yaitu panggilan untuk hidup di Padang Gurun. Seolah-olah Tuhan menyerahkan bola dunia ke pangkuan saya untuk diselamatkan dan didoakan. Saya tidak menyesal dengan pilihan hidup di Padang Gurun ini. Bahkan, kadang-kadang saya bertanya, “Mengapa saya tidak menjalani panggilan suci ini sejak kecil?” Itulah misteri panggilan Tuhan. Tuhan mempunyai suatu rencana indah dalam hidup saya.

 

Ya Tuhan, terima kasih atas cinta-Mu kepadaku selama ini.

Aku bersyukur karena cinta-Mu melampaui segala-galanya.

Engkau telah berkenan memilih aku, orang yang berdosa ini.

Engkau lebih besar dan aku semakin kecil di hadapan-Mu.