Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

Tidak terasa sudah setahun saya hidup bersama para frater CSE (Carmelitae Sancti Eliae) di Pertapaan Shanti Bhuana, Cikanyere, Cipanas, Jawa Barat. Banyak hal yang saya alami dan kehidupan bersama mereka. Saya bersyukur kepada Tuhan atas pendirinya, Rm. Yohanes Indrakusuma CSE, karena saya diberi kesempatan untuk mengenal sedikit spiritualitas CSE yang kontemplatif tetapi juga aktif dalam pelayanan dan berciri khas kharismatik ini.

Dalam tulisan singkat ini saya ingin mengungkapkan isi hati saya dengan menyajikan beberapa hal yang kiranya dapat mengungkapkan sedikit tentang spiritualitas Carmelitae Sancti Eliae dalam sudut pandang pemahaman dan pengalaman pribadi yang saya alami dan saya rasakan selama berada di tengah-tengah mereka. Saya merasa malu menyampaikannya dalam tulisan ini sebagai ucapan terima kasih saya dan agar orang lain mengenal konggregasi baru ini, yang mengambil motto Vivit Dominus in Cuius Conspectu Sto: Allah hidup dan aku berdiri di hadapan-Nya.

 

Cara Hidup Harian

Cara hidup CSE ditandai dengan doa dan kontemplatif supaya dapat membangun relasi pribadi yang intim dengan Tuhan dan senantiasa mendengarkan bisikan Tuhan di dalam hati. Mereka menghayati apa yang dikatakan dalam Regula Karmel (Regula St. Albertus yang disesuaikan oleh Paus Innocentius IV): siapa yang banyak bicara melukai jiwanya, dan siapa yang banyak bicara tidak luput dan dosa. Cara hidup ini merupakan kekuatan batin yang sangat membantu dalam karya pelayanan.

Memang pengalaman manusiawi menunjukkan bahwa semakin sering orang berbicara semakin cenderung untuk menipu dirinya sendiri atau memuji dirinya dan dengan demikan menutupi keadaan yang sebenarnya. Hal ini tentu menghambat hubungan yang intim dengan Tuhan yang menghendaki ketulusan hati dan kerendahan hati, sebab manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati (bdk. 1Sam 16:7). Juga menghambat hubungan dengan sesama dan proses aktualisasi diri.

Ada orang yang mengatakan bahwa dengan perayaan sakramen-sakramen, khotbah, dan perayaan katekesis mereka juga membangun relasi dengan Tuhan. Benar juga, akan tetapi belum cukup untuk membangun suatu relasi pribadi yang intim dengan Tuhan. Ibarat memberi makan orang tetapi diri sendiri lupa makan. Karena itu, tidak bisa menggantikan doa pribadi, saat hening untuk ada bersama dengan Tuhan dan mendengarkan Dia.

Briedge McKenna, setiap hari berdoa di depan Sakramen Mahakudus selama 3 jam dan ini sangat membantu dia dalam karya pelayanan mentobatkan banyak orang melalui karya-karya penyembuhan. Hening di hadapan Tuhan membuat dia kuat menghadapi cobaan, godaan, penderitaan, serta memiliki berbagai karunia termasuk karya penyembuhan. Kekuatan rohani yang diperoleh melalui ‘hening bersama Tuhan’ ini membuat Bniedge McKenna banyak diminta untuk memberi retret ke mana-mana keseluruh dunia termasuk memberi retret kepada para imam. Ia banyak dicari orang, ia lelah tetapi gembira. Hal ini tentu merupakan sumber kebahagiaan dalam penghayatan panggilannya (Briedge McKenna, OSC & Henry Lebersat, Mukjizat-mukjizat di Zaman Modern, Kanisius 1995).

Para frater CSE setiap hari juga meluangkan waktu untuk hening dihadapan Sakramen Mahakudus secara pribadi paling kurang dua jam atau lebih. Mereka juga mengadakan adorasi (pujian dan penyembahan) bersama di hadapan Sakramen Mahakudus, serta ofisi dan Ekaristi bersarna setiap hari. Mereka tetap menjaga suasana hening sepanjang hari. Dan betapa suasana ini menarik banyak orang; banyak imam mencari ketenangan disini, banyak orang bertobat ditempat ini, dan tidak sedikit pula yang mendapat penyembuhan fisik ditempat ini.

Peserta retret di sini mencapai 300-400 orang dan kalau mau mengikuti retret orang harus mendaftar beberapa bulan sebelumnya. Banyak yang ditolak karena kapasitas ruang tidur terbatas. Malah ada yang mengadu nasib dengan mengisi waiting list, mengharapkan ketidakhadiran peserta yang sudah mendaftar. Bukankah ini suatu karya Tuhan yang luar biasa? Semuanya itu tenjadi tentu berkat doa-doa dan cara hidup mereka sehingga mereka dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkat dan rahmat-Nya. Saya merasakan juga buah-buah dan hubungan intim dengan Tuhan melalui keheningan ini, khususnya dalam konseling patoral. Terkadang saya mengalami secara tiba-tiba Tuhan membisikkan kata-kata hikmat dalam mulut saya, kata-kata yang tidak saya pikirkan atau persiapkan sebelumnya, atau didalam mencari akar terdalam dan suatu persoalan. Tiba-tiba Tuhan membisikkan suatu kata dalam benak saya, dan memang bisa menemukan akar terdalam dan persoalan klien tersebut. Dulu saya menganggap hal itu sebagai suatu proses penalaran, actus rationis semata, tetapi kini saya menyadari hal itu sebagai campur tangan Tuhan yang mau menolong klien saya.

Juga dalam hal khotbah, dulu saya mempersiapkan khotbah saya secara tertulis lalu membacakan teks tersebut, kesannya memang kaku, tidak komunikatif, kurang percaya akan kemampuan diri. Melalui doa hening, doa dengan penuh penyerahan diri,  saya lebth percaya diri dan percaya pada kuasa Roh Kudus yang pada waktunya akan membantu siapa saja yang akan mewartakan Sabda-Nya: “Sebenarnya Aku menaruh perkataan-perkataanKu dalam mulutmu (Yer 1:9). Dan hasilnya, menurut umat yang mendengarkan, khotbah saya menjadi lebih baik dan Iebih menarik jika dibandingkan dengan sebelumnya. Saya memang mempersiapkan khotbah saya secara tertulis juga, akan tetapi teksnya tidak saya bawa. Saya berprinsip, “Kalau engkau (pengkhotbah) tidak mampu mengingat apa yang engkau persiapkan, bagaimana mungkin engkau mengharapkan orang bisa mengingat apa yang engkau katakan!”