Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

Dalam rangka 25 tahun CSE, para frater CSE yang tinggal di Rumah Studi (Skolastikat) St. Theresia Lisieux, Malang mempunyai cerita sendiri tentang kehidupan dan panggilan mereka sebagai frater studi/calon imam CSE. Mereka mau membagikan sukacita dan dukacita yang mereka alami sebagai calon-calon imam CSE, sebagai tumpuan dan masa depan CSE. Di atas semua itu, mereka mau bersyukur kepada Tuhan yang telah memanggil mereka dan menempatkan mereka dalam CSE. Mereka mau bersyukur atas ulang tahun CSE yang ke-25.

“Komunitas CSE telah memberi begitu banyak hal kepada saya pelajaran tentang kehidupan,” demikian diungkapkan frater Klimakus. Dia sungguh mengalami betapa indahnya kehidupan komunitas itu. Hal yang sama dikatakan frater Athanasius, “Hidup berkomunitas merupakan hidup yang indah.” Di sana mereka menemukan bagaimana Tuhan membantu mereka. Dalam komunitas, mereka berjuang baik menghadapi sesama maupun berjuang meniti panggilan mereka sebagai calon imam CSE terutama berkaitan dengan tugas belajar mereka. Hidup ini memang perjuangan. Tetapi apa artinya perjuangan, tanpa rahmat Tuhan? Maka dalam menghadapi perjuangan ini, “Perlu jatuh cinta setiap hari. Jatuh cinta mengandaikan adanya kerelaan, usaha untuk melakukan semuanya. Apabila tugas saya adalah belajar, maka saya harus jatuh cinta kepada studi; dan bukan itu saja, tetapi jatuh cinta dalam doa dan ibadat, kerja komunitas dan terlebih lagi jatuh cinta kepada sesama,” kata frater Hieronimus.  Benar, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari atas cinta. Kalau dalam hati kita ada cinta semuanya terasa ringan. Kalau ada cinta yang berkobar-kobar semuanya jadi indah, penghayatan panggilan menjadi indah, belajar juga jadi indah. Tetapi kalau tidak ada cinta, semua terasa berat. Apa yang mestinya ringan menjadi berat, apa lagi yang berat.

Menjadi imam di zaman sekarang memang bukanlah hal yang mudah. Bagi frater Gilbert, “Menjadi imam itu dibutuhkan perjuangan yang panjang bahkan harus disertai duka dan air mata.” Namun mereka yakin bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri karena Dia yang memanggil mereka adalah setia. “Bersama Tuhan, semua yang dilakukan lebih bermakna, kami menyerahkan semuanya kepada Yesus,” demikian keyakinan dan ketetapan hati frater Macarius.

Bagi frater Brendan, “Belajar merupakan tugas perutusan. Perutusan menuntut suatu kerelaan hati dan bukan paksaan.” Ada cinta yang harus menjadi dasar dari setiap tugas belajar. Maka, “Sesulit apa pun materi itu asal saya belajar dengan sungguh-sungguh dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan maka semuanya akan berjalan baik,” itu dikatakan frater Thierry.

Kesulitan yang dialami frater Daniel sungguh luar biasa. Dia berjuang belajar, karena dia belum lancar bahasa Indonesia dan semua kuliah dilakukan dalam bahasa Indonesia. Tetapi dia berhasil belajar dengan baik. Itu karena bantuan saudara dalam komunitas, para dosen dan juga karyawan-karyawati STFT. Frater Daniel merasa senang kuliah, walaupun banyak kesulitan dan dengan tuntutan yang tinggi membuat dia memaksa diri untuk belajar banyak hal mengenai Filsafat dan Teologi.