Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

Entah sejak kapan Tuhan menanamkan kerinduan dalam hati saya untuk mengikuti Dia dalam hidup membiara. Entah apa sebabnya sehingga saya memberanikan diri untuk mengayunkan langkah dan mengikuti panggilan yang ada dalam hati saya. Entah mengapa saya memilih Putri Karmel sebagai tempat yang dapat memuaskan seluruh kerinduan saya untuk mencintai Dia yang telah memanggil saya. Dan, masih banyak “entah” lain yang pernah muncul dalam pikiran saya. kenyataannya, sekarang saya telah berada di kongregasi ini lebih dari sepuluh tahun.

Saya menerima Sakramen Pembaptisan dan Komuni Pertama saat kelas VI SD pada tanggal 27 Desember 1982. Sejak pembaptisan itu, saya senang mengikuti Perayaan Ekaristi. Guru Agama saya mengajarkan tentang apa yang terjadi selama Perayaan Ekaristi. Dia menerangkan dengan penuh kesungguhan tentang saat konsekrasi dan saat komuni. Semua itu terekam baik dalam memori saya sehingga saya sangat menanti-nantikan saat konsekrasi dan komuni.

Ketika SMP, saya ikut kegiatan misdinar dan REMAKA (Remaja Katolik) yang ada di paroki. Saat bertugas di altar, saya bertanya-tanya, “Apakah ada perempuan yang seperti imam? Yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan? Sepertinya saya ingin juga seperti itu.” Saya dibesarkan di Subang dan saya merasa tidak pernah melihat suster di sana. Memang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keluarga saya sendiri belum menganut agama Katolik. Namun, dari TK sampai dengan SMP, saya belajar di sekolah Katolik. Ketika kelas II SMP, saya ikut retret yang dipimpin oleh dua suster CB di biara OCD di Lembang. Saat itulah pertama kalinya saya melihat suster.

Ketika retret itu, saya menyukai suster yang lebih pendiam dan hanya senyum-senyum saja daripada suster yang begitu ceria, menarik, dan disenangi oleh teman-teman (mungkin karena saya memiliki karakter yang sama dengan dia). Waktu itu diberi kesempatan untuk konsultasi, tetapi saya tidak tahu apa artinya “konsultasi” itu. Saya dekati suster itu dan saya katakan bahwa saya mau menjadi seorang suster, tetapi saya masih jahat terhadap adik-adik saya dan sering berkelahi dengan mereka. Suster itu tersenyum dan berkata, “Kamu harus banyak berdoa dan mengasihi adik-adikmu.” Itulah konsultasi pertama dan tersingkat yang pernah saya lakukan.

Selam retret itu, saya tidak pernah melihat suster OCD. Saya bertanya kepada teman-teman saya tentang suster OCD. Mereka menjelaskan sedikit dan hal ini membuat saya semakin penasaran. Saya coba pergi ke kapel mereka untuk mengintip, tetapi tidak melihat mereka. Saya hanya ingin tahu satu hal, “Apakah mereka pakai sandal atau tidak karena namanya Karmel tak berkasut?” Ketika selesai retret dan kembali ke rumah, hati saya sakit sekali. Entah apa sebabnya sehingga saya ingin menangis rasanya. Ada sesuatu yang mau diambil dari hati saya, tetapi saya hanya diam dan merasakan rasa sakit itu seorang diri.

Suatu hari saya mengikuti Camping muda-mudi yang diadakan di paroki. Di hari terakhir camping, mama datang untuk menjemput saya. Ketika mau pulang, saya mendengar seorang guru yang mengatakan kepada mama saya, “Ibu, anak ibu ini cocok untuk menjadi seorang suster, loh.” Mama saya lalu menjawab, “Kalau anaknya mau, ya tidak apa-apa.” Saat itu saya ingin mendekat dan berteriak, “Iya, Ma, saya mau sekali!” Tetapi, saya hanya diam saja. Di becak dalam perjalanan pulang, mama saya marah-marah den membentak saya. Mama mengatakan bahwa sekali-kali saya tidak boleh jadi suster. Saya sedih sekali. Saya hanya berkata dalam hati, “Loh, tadi saya tidak bicara apa-apa. Khan, mama yang bilang saya boleh jadi suster.” Karena saya sangat sayang kepada mama, maka keinginan itu saya tepis dari pikiran saya. Setelah itu papa dan mama mulai melarang kalau saya terlalu sering ke gereja. Semuanya itu saya pendam sampai saya lulus SMA.