Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

Di suatu senja pada hari Minggu dalam bulan Oktober 1986, setelah perayaan Ekaristi, hati saya diliputi oleh kebingungan. Dalam perjalanan pulang, saya ingin berlari, seakan-akan ingin terbang, saya ingin mendapatkan ketenangan. Sesampainya di tempat kos, saya langsung berdoa. Dalam jeritan batin dengan nada fortissimo—tetapi tak terdengar suara karena meluncur jauh ke dalam lubuk hati, tempat di mana Sang Bapa Surgawi bertakhta—saya berdoa, “Bapa, tunjukkanlah kepada anak-Mu ini, apakah kehendak-Mu? Apakah yang harus saya lakukan?” Setelah kira-kira sepuluh menit saya berada dalam perjuangan batin tersebut, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya: “Pergilah ke tempat yang sunyi!” Setelah itu, lenyaplah segala kebingungan saya dan hati saya pun diliputi oleh kedamaian. Saya sendiri tidak mengerti apa maksud kalimat tersebut. Saya mencoba merenungkan kalimat tersebut, tetapi tetap juga saya tidak mengerti.

Keesokan harinya—hari Senin, permulaan pekan—seperti biasa saya pergi ke kantor Kepala Sekolah untuk menyerahkan persiapan. Tiba-tiba mata saya tertuju ke salah satu meja yang ada sebuah majalah Hidup dengan tulisan besar di halaman depan “KONTEMPLATIF”. Saya membuka halaman demi halaman. Ada suatu topik yang menarik bagi saya: “Pertapaan Karmel, Ngadireso.” Majalah tersebut saya bawa pulang ke rumah lalu saya membacanya lagi. Semakin saya baca, semakin saya tertarik. Mengapa? Saya pun tidak tahu. Namun akibatnya, saya tidak ingin lagi aktif di lingkungan, kegiatan koor, dll. Sepulang kerja, saya lebih senang berada di kamar. Dan, setiap hari saya membaca lagi majalah tersebut. Segala aktivitas lain yang bersifat rohani terasa hampa karena hati saya terpesona oleh bacaan tersebut.

Tiga bulan lamanya saya menjadi aneh seperti itu. Saya pun ingin tahu ada apa sebenarnya di sana? Akhirnya, tanggal 27 Desember 1986 saya sampai di Pertapaan Karmel tersebut. Hati saya diliputi oleh damai dan sukacita. Tempatnya sunyi dan di senja hari hanya ada bunyi jangkrik yang baru pertama kali saya dengar.

Sekembalinya dari Pertapaan, saya belum juga mengerti maksud Tuhan. Selama sebulan, dalam renungan dan doa, barulah saya mengerti maksud Tuhan. Anehnya, hati saya begitu pasrah: “Tuhan, terjadilah kehendak-Mu.” Padahal, sebelumnya saya tidak mau hidup membiara, apalagi biara kontemplatif. Rencana saya adalah ikut aktif dalam kegiatan Paroki dan lingkungan saja sudah cukup. Ternyata Tuhan mempunyai rencana lain. “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes 55:8).

Setengah tahun kemudian, Dia memberikan kekuatan kepada saya untuk melangkah mengikuti Dia. Dia membuka rahasia kasih-Nya dan menyatakan kepada saya siapakah saya ini. Dia berbicara kepada saya melalui berbagai macam cara dan kesempatan, baik melalui Ekaristi, doa, retret, pelajaran, bimbingan pribadi, komunikasi dengan sesama, alam semesta dan ciptaan-Nya, dll. Dia sungguh hidup. Dia mengenal diri saya. Vivit Dominus in cuius conspectu sto ‘Allah hidup dan aku berdiri di hadirat-Nya’.

Dia sudah menyusun kurikulum dalam “sekolah kesempurnaan-Nya” yang khas bagi saya. “Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya” (Hos 2:13). Pelajaran pertama dalam sekolah kesempurnaan-Nya yang sangat berkesan bagi saya adalah melalui khotbah di suatu hari Minggu, “Bukalah topengmu!” Sabda-Nya bagaikan panah menembus kesadaran saya. Saya terkejut. “Tuhan, apakah diriku bertopeng?” Dan, selama beberapa hari sabda tersebut masih terdengar. Akhirnya, saya menyerah dan berdoa, “Lakukanlah, ya Tuhan, tolonglah aku! Bukalah topeng-topeng yang ada dalam diriku!”