Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

doa di balik pintu dinding kamarku

Benih panggilan saya tumbuh sejak masih kecil. Di balik pintu dinding kamar saya, ibu saya menempelkan gambar Yesus dan Bunda Maria serta menggantungkan sebuah rosario di antara gambar tersebut. Setiap kali mau berangkat atau pulang sekolah dan setiap mau tidur malam atau bangun pagi, saya suka mengamat-amati kedua gambar itu. Sebelum tidur, ibu selalu mengatakan, “Ayo, doa dulu!” Di depan kedua gambar itu saya mengatupkan kedua tangan dan memejamkan mata untuk berdoa. Biasanya doa saya pendek saja, doa seorang anak kecil.

Setiap hari saya melihat ibu mengambil rosario dari tempatnya dan berdoa setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai. Di rumah saya juga ada dua buah Injil besar berbahasa Jawa dengan gambar-gambar berwarna di perikop yang menceritakan kehidupan Tuhan Yesus. Ibu dan ayah saya sering menceritakan Injil bahasa Jawa ini atau membacakannya kepada anak-anaknya dan menerangkan maksudnya. Ceritanya hampir sama dengan cerita ibu guru di sekolah. Sepulang sekolah saya suka membolak-balik Injil itu untuk melihat gambarnya. Ibu pula yang mengajar saya untuk berdoa dan menanamkan benih iman dalam hati saya sejak kecil.

Ayah memasukkan saya di sebuah sekolah Katolik milik Yayasan Kanisius. Saya merasa senang berada di sekolah ini. Setiap hari ayah mengantar saya ke sekolah dan gereja, sedangkan ibu yang menjemput saya. Bagi saya, sekolah dan kegiatan gereja sangatlah menyenangkan. Saya sangat menyukai pelajaran Agama, apalagi kalau ibu guru sudah mulai bercerita dari Injil yang bergambar dan berwarna, sangat menarik bagi saya. Setelah menerima komuni pertama, ibu menyuruh saya untuk mengikuti kegiatan putra-putri altar di gereja. Setiap pagi, ibu selalu membangunkan saya untuk pergi misa dan tugas misdinar bersama adik saya. Ia membekali saya roti dan makanan yang perlu untuk sarapan pagi sebab setelah misa selesai, kami langsung ke sekolah, jarak gereja dan sekolah tidak terlalu jauh.

Di sebelah gereja ada sebuah Gua Maria yang menjadi tempat kesukaan saya untuk berdoa sebelum bertugas misdinar. Biasanya, sebelum masuk ke gereja saya suka memasang lilin dan berdoa di situ. Doa saya pendek saja, “Bunda, berilah aku masa depan yang cemerlang. Terima kasih.” Tanpa sadar apa maksud doa itu, tetapi saya memercayakan hidup dan masa depan saya pada Bunda Maria.

Menjelang hari raya Natal atau Paskah, biasanya kami menghabiskan banyak waktu di gereja untuk latihan koor atau latihan misdinar. Saya sangat bangga menjadi misdinar. “Dengan menjadi putri altar itu berarti saya melayani Tuhan sendiri,” kata ibu. Ibu juga mengajarkan bahwa Tuhan Yesus hadir dalam hosti kudus. Para suster CB atau romo SJ dan juga frater yang sedang TOP (Tahun Orientasi Pastoral) menjadi pembina misdinar kami. Mereka juga mengajarkan jika memukul gong saat konsekrasi, lihatlah Yesus dalam hosti yang sedang dikonsakrir. Sejak itu, saya selalu menaruh hormat setinggi-tingginya kepada Yesus yang saya layani. Selain itu, saya juga paling senang kalau bertugas memukul gong, seolah-olah mau memberitahukan kepada semua orang untuk memperhatikan Yesus yang hadir dalam hosti yang diangkat ke atas oleh tangan imam.