Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

anugerah panggilan

Pertama kali saya merasakan panggilan Tuhan untuk hidup membiara baru pada tahun 1996, waktu saya berada di Paroki St. Yosep, Bajawa—Flores, yang dikelola oleh para romo OCD. Setiap hari Minggu, saya mengikuti perayaan Ekaristi di sana. Dan, di tempat inilah hati saya mulai terpikat oleh penampilan para frater OCD dengan jubah cokelatnya yang keren. Lalu terlintaslah dalam benak saya untuk berjubah seperti mereka. Seuntai doa terucap dari bibir saya, “Tuhan, jikalau Engkau menghendaki, aku juga ingin memakai jubah seperti mereka.” Hasrat mulia ini tersimpan dengan rapi dalam lubuk hati saya.

Waktu itu saya sudah bekerja di sebuah toko yang pemiliknya dari Atambua. Pada suatu hari, suasana toko menjadi sepi karena tidak ada pengunjung. Dengan suara lembut dan bernada mengajak, saya menyanyikan kalimat ajakan imam yang biasa diucapkan sebelum Doa Pembukaan pada perayaan Ekaristi, “Marilah berdoa.” Lalu dengan spontan, Aci—sapaan untuk majikan wanita—mengatakan, “Hei, Benyamin—nama baptis saya—kamu cocok jadi pastor. Dan, kalau kamu mau, saya akan antar kamu ke biara OCD biar kamu mengenal cara hidup mereka.” Saya menjawb, “Oh, Aci, saya mau dan kapan saya bisa diantar ke sana?” Aci menyambung, “Oke, tunggu saja.” Saya bersyukur karena ada peneguhan dari Aci.

Waktu terus berjalan sambil menanti kapan saya diajak Aci ke biara OCD. Akhirnya sampailah waktunya saya harus meninggalkan kota Bajawa dan kembali ke Timor—tanah kelahiranku—dan saya belum sempat diajak ke biara OCD tersebut. Saya tiba di kampung halaman pada bulan September 1997. Selama berada di kampung halaman, keinginan untuk hidup membiara tetap terpatri dalam lubuk hati saya. Akan tetapi, saya malu dan takut mengungkapkan kepada orang tua dengan dalih bagaimana kalau mereka tidak mengindahkan keinginan saya ini.

Sejak September 1997—Desember 1998, saya terus memohon kepada Tuhan agar memelihara benih panggilan yang mulai tumbuh di dalam diri saya. Diam-diam, tanpa sepengetahuan kedua orang tua, saya menghadap ke pastor paroki, Rm. Hendrikus Hale, Pr pada awal Januari 1999. Saya ungkapkan niat saya kepadanya. Puji Tuhan, beliau mendukung panggilan saya. Yang menjadi beban adalah bagaimana saya menyampaikannya kepada orang tua. Keinginan untuk masuk biara sangat bertentangan dengan dengan keinginan mereka sebab mereka menginginkan agar saya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sambil menanti saat yang tepat untuk menyampaikannya, saya terus berdoa kepada Tuhan agar orang tua saya mengabulkan keinginan saya. Akhirnya saya meminta bantuan Rm. Hendrikus untuk menyampaikannya kepada mereka. Puji Tuhan, berkat bantuan Rm. Hendrikus, keinginan saya diluluskan oleh mereka.

Setelah mendapatkan izin resmi untuk masuk biara, saya diberi buku Petunjuk Gereja oleh Rm. Hendrikus yang di dalamnya ada banyak biara. Saya bingung mau ke biara mana. Teringat biara Karmel OCD di Flores—Bajawa, tetapi tidak mungkin saya kembali ke Bajawa karena udaranya dingin. Jika masuk biara di sana berarti harus tinggal di sana untuk waktu yang cukup lama. Saya sangat senang dengan kekarmelitannya, tetapi saya tidak bisa bersahabat dengan cuacanya. Dalam kebingungan, saya tetap berdoa. Kemudian saya menemukan dua biara yang saya rasa cocok bagi saya, yaitu biara Fransiskan (OFM) di Ruteng—Flores dan biara MSC di Purwokerto—Jawa Tengah. Pikir saya, dari antara kedua biara ini, saya akan bergabung dengan biara yang menerima lamaran saya. Tetapi, saya merasa masih ada yang kurang dengan dua biara ini, yaitu keduanya bukan Karmel. Saya mau yang Karmel, yang lebih mengutamakan hidup doa.

Masih dalam suasana kebingungan ini, datanglah seorang penolong yang diutus Tuhan, yaitu Rm. Moses Olin, Pr—pastor paroki Manumean, paroki tetangga yang masih dalam Keuskupan Atambua. Karena pastorannya sedang direnovasi, maka untuk sementara dia tinggal di paroki kami. Saya sering menjadi teman seperjalanannya kalau beliau pergi ke parokinya untuk patroli atau kunjungan ke stasi. Dari sinilah saya makin mengenal beliau yang ternyata merupakan pecinta karismatik dan pernah retret pribadi selama dua minggu di Lembah Karmel—Cikanyere. Sekembalinya ke Atambua, beliau membawa brosur CSE. Ketika saya menceritakan keinginan saya untuk masuk biara, beliau memberikan brosur CSE tersebut untuk saya baca. Saat membaca brosur tersebut, hati saya tersentuh dengan cara hidup CSE yang agak unik dibandingkan dengan biara kontemplatif lainnya, yaitu perpaduan antara spiritualitas Karmel dan pembaruan hidup dalam Roh. Meskipun waktu itu saya belum mengenal CSE secara lebih dekat, tetapi gaya hidupnya sudah mengusik hati saya. Lalu saya melamar ke tiga biara, yaitu biara OFM St. Yosep di Ruteng, biara MSC di Purwokerto, dan biara CSE. Dari ketiga biara ini, yang membalas surat lamaran saya hanya biara CSE. Kemudian saya melengkapi persyaratan untuk diterima sebagai calon CSE yang belum sempat terkirim waktu awal melamar. Dan, pada tanggal 5 Juli 1999 saya menerima surat balasan yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai calon postulan CSE. Betapa bersukacitanya saya waktu itu.

Sewaktu mempersiapkan segala keperluan untuk masuk biara, datanglah satu tantangan lagi. Kali ini muncul dari dalam pikiran saya. Saya teringat akan semua milik saya, tanah yang sudah saya beli untuk dibangun rumah, sawah yang baru saja dibelikan oleh orang tua, sapi-sapi yang menjadi bagian saya sebagai hak anak sulung, teman-teman saya, dan teristimewa pacar saya. Namun, saya tidak bisa membohongi niat suci saya. Dan, akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat ke biara CSE. Tanggal 19 Juli 1999 saya berangkat bersama dengan Rm. Moses. Dan, pada tanggal 13 Agustus 1999, saya bersama dengan ketujuh saudara yang lain, resmi diterima sebagai postulan CSE. Sebulan berikutnya, bergabung satu saudara lagi, sehingga kami berjumlah sembilan orang. Kami mulai mengenal satu sama lain dan menerima perbedaan yang ada. Di sinilah perjuangan kami.

Pada tahun 2000, saya mengalami penundaan untuk masuk ke masa Novisiat. Pengalaman ini merupakan salah satu pengalaman pahit yang saya alami di CSE. Saat itu saya mengalami suatu kegelapan dalam hidup saya. Saya merasa gagal dan sia-sia saja perjuangan selama setahun. Dalam kegelapan itu, saya berteriak kepada Tuhan untuk meminta petunjuk. Lalu Tuhan menunjukkan jalan yang harus saya tempuh dan saya syukuri. Saya datang kepada dua saudara lain yang lebih senior untuk menceritakan beban saya. Dan, melalui merekalah saya mendapatkan peneguhan untuk tetap melangkah. Mereka menceritakan kisah St. Theresia dari Lisieux yang mengalami penundaan kaul pertamanya. Berkat kesetiaan dan kesabarannya, maka ia sekarang menjadi orang kudus besar.

Kemudian saya berdoa di dalam pondok saya seraya bersyukur atas peneguhan yang baru saja saya terima. Dalam doa itu saya terdorong untuk membuka Kitab Suci. Dan, tanpa saya sadari saya membuka Surat Petrus yang pertama, “Sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Ptr 1:6-7). Melalui firman-Nya ini, saya makin diteguhkan dan makin bersyukur. Selain itu, melaui peristiwa ini saya diajar untuk makin rendah hati, bersabar, menerima diri saya apa adanya, dan terus bertumbuh dalam iman.

Waktu terus melaju dan tak terasa tibalah saat bagi saya untuk menyerahkan diri saya seutuh-utuhnya kepada-Nya lewat pengikraran kaul kekal. Tanggal 20 Juli 2007, saya bersama dengan dua saudara yang lain—fr. Joseph Krisostomus, CSE dan fr. Elisa Maria, CSE—dengan tekad yang bulat, kami menyerahkan diri kepada-Nya untuk seumur hidup.