Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

Bagaimana pengalaman saya dalam hidup berkomunitas di biara CSE? Jujur saja, pada awalnya saya merasa berat sekali dalam hidup berkomunitas, hidup bersama orang lain dan harus belajar banyak hal dalam komunitas, terutama harus menyesuaikan diri dengan komunitas. Hidup bersama dalam komunitas bagi saya itu tidak mudah: hidup bersama orang lain yang dengan latar belakang budaya, suku, bahasa yang berbeda-beda. Dari hari ke hari, saya harus belajar dan berusaha dengan memohon bantuan rahmat Tuhan untuk  dapat menerima orang lain apa adanya serta mau bersahabat dengan siapa saja sebagai saudara di dalam Kristus. Saya juga harus berusaha untuk mendisiplinkan diri agar dapat mengikuti semua acara komunitas, misalnya Perayaan Ekaristi, ibadat, dan makan bersama. Namun setelah beberapa tahun berada di biara CSE, saya merasakan kebahagiaan dalam hidup bersama, dan ternyata hidup berkomunitas itu menjadi indah jika semuanya diarahkan kepada Kristus. Saya menyadari bahwa keindahan hidup persaudaraan dalam komunitas CSE bukannya tanpa perjuangan, di mana semua anggotanya berusaha untuk menghayati hidup persaudaraan ini dengan mengalahkan diri sendiri demi cinta kepada Kristus, dan juga kesadaran bahwa Tuhanlah yang telah memanggil dan mempersatukan kami dalam komunitas CSE ini.

Dalam hidup berkomunitas kami tidak luput dari gesekan dan beda pendapat. Terkadang ada hal-hal tertentu yang bisa membuat kami jengkel, marah, tersinggung, dan sebagainya. Inilah realita bahwa kami yang dipanggil adalah pribadi-pribadi yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Namun Tuhan selalu menolong kami sehingga hal ini tidak membuat kami kendur dan patah semangat dalam menghayati hidup panggilan kami dalam komunitas CSE. Di sisi lain, hidup bersama dalam komunitas mempunyai keuntungan terutama bagi saya pribadi. Saya menjadi lebih kuat, merasa tidak sendirian, saya menjalani hidup panggilan ini bersama Yesus dan bersama saudara-saudaraku. Karena itu, bagi saya pribadi, kehadiran sesama dalam komunitas mengandung makna yang sangat dalam yang mendatangkan kebaikan bagiku untuk tetap melangkah dan setia dalam menapaki panggilan suci ini. Dan saya merasa bangga dan bersyukur kepada Tuhan karena saya boleh menjadi anggota CSE. Saya boleh mendapatkan banyak hal, terutama saya boleh mengenal dan mengalami kasih Allah.

Bagaimana penghayatan hidup persaudaraan dalam CSE? Hidup persaudaraan yang baik adalah hidup persaudaraan yang dilandasi oleh cinta kasih Kristus, dan hal ini saya alami di dalam komunitas CSE. Oleh karena itu, saya mengatakan bahwa hidup persaudaraan dalam CSE baik. Bapak Pendiri kami, Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm, sering menasihatkan dan mengingatkan kami dengan mengutip kata-kata St. Paulus, “Di antara kamu tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, kamu semua adalah orang yang terpanggil.” Karena itu, demi cinta persaudaraan ini Bapak Pendiri kami melarang keras untuk tidak memakai bahasa daerah di dalam komunitas. Beliau mengingatkan kami untuk memakai bahasa yang dapat dimengerti oleh semua orang. Dengan demikian, persaudaran ini benar-benar dipupuk, dijaga, dan buah-buahnya pun boleh dirasakan oleh semua anggota serikat. Supaya tidak ada perbedaan di antara kami, semua anggota serikat, baik imam maupun non imam, dipanggil frater. Hidup persaudaraan yang baik justru sangat membantu dalam pembentukan kepribadian setiap anggota serta dapat bertumbuh dalam kehidupan rohani.