Copyright 2018 - Supported by Mediahostnet

Saat saya diminta untuk menuliskan sharing panggilan dengan cara dan gaya belia atau ABG (Anak Baru Gedhe, red.) zaman ini, tentulah bukan pekerjaan mudah bagi saya. Maka, dengan sedaya upaya saya mencoba untuk menuangkan secara singkat bagaimana prosesnya saya “menanggapi” panggilan Tuhan sehingga sekarang saya tertambat di Kongregasi CSE. “Menanggapi” berarti saya tidak pasif menunggu rahmat dan berkatnya saya rasakan terlebih dahulu baru kemudian saya bergerak. “Menanggapi” juga berarti bahwa saya berusaha memberikan seluruh diri saya kepada apa yang saya percaya dan sadari itu merupakan kehendak Tuhan. Itu juga bukan sejak awal begitu jelas dan pasti, tetapi melalui proses yang bertahap dan memerlukan waktu.

Rekan muda yang terkasih, kalau ditanyakan kepada saya kapan saya merasakan panggilan Tuhan untuk kehidupan sebagai religius (frater) ini? Saya hanya dapat menjawab saat saya serius untuk mencari Tuhan. Jadi, sejak kecil saya tidak mencari Tuhan dong? Saya memang Katolik sejak bayi, tetapi belum tertarik mencari Tuhan sebagai Pribadi yang digandrungi sedemikian rupa seperti mau gila kalau tidak bertemu Dia barang sesaat saja. Singkatnya, saya serius mencari Tuhan mulai kelas 2 SMP, di mana saat itu saya mulai menyukai meditasi-samadhi untuk mengheningkan diri, menyendiri, dan memilih tidak banyak berbicara, menghindari hal-hal yang kiranya merusak pikiran dan batin yang bersih. Juga berpuasa dan pantang yang ketat. Oleh seriusnya saya mau mencari Tuhan dalam keheningan dan kesunyian itu, hampir-hampir saya salah jalan. Itu terjadi sewaktu tamat SMP, saat saya membaca artikel tentang vihara (tempat para pertapa Budha tinggal-hidup) dan singkatnya saya tertarik. Saya memutuskan masuk ke sana. Tetapi tidak terlaksana yang kemudian saya sadari itu tangan Tuhan yang bekerja melalui ayah saya. Beliau diam-diam mendaftarkan saya ke SMA, padahal saya sudah memutuskan dalam diri saya untuk tidak melanjutkan sekolah karena hasrat itu.

Seiring perjalanan waktu, saya terus bersekolah dan keinginan untuk hidup dalam kesunyian dan keheningan semakin besar. O ya, mungkin ada yang bertanya bagaimana di sela-sela sekolah itu? Apakah saya aktif di kegiatan Gereja. Terus terang saya tidak aktif sama sekali. Yang saya ingat adalah saya hanya ikut misa Minggu, misa harian, dan Rosario tiap bulan Mei dan Oktober. Saya orang rumah dan teman pergaulan saya yang paling dekat bukan sesama teman katolik, sebaliknya yang Kristen, Islam, Budha, dan Hindu. Aneh bukan! Itulah yang saya alami masa itu. Ini berlangsung sampai saya naik kelas 3 SMA.

Ada lagi kejadian yang tidak saya kehendaki, tetapi sekali lagi ini saya sadari sebagai cara Tuhan untuk menunjukkan jalannya. Lagi-lagi melalui ayah saya, Dia mau membentuk saya supaya kuat untuk perjalanan panggilan selanjutnya. Ayah saya mendaftarkan saya untuk mengikuti Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar yang diadakan oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan Palembang. Awalnya reaksi saya adalah “marah” kepada ayah saya. Tetapi, melalui pengertian-pengertian yang beliau berikan, saya luluh juga dan manut ikuti saran beliau. Dari situlah saya mulai aktif dalam kegiatan mudika sampai akhir SMA. Dan, melalui cara ini saya mulai “melihat” apa yang sebenarnya ada di dalam Gereja Katolik, termasuk panggilan menjadi religius dan imam. Itu bukan berarti saya tidak tahu mana romo, bruder, frater, atau suster. Saya tahu mereka ini, tetapi  hati-batin saya belum pernah tergerak-tersentuh untuk berpikir ke sana. Barulah kemudian saya tertarik untuk memasukinya saat kelas 3 SMA.

Ternyata unik juga kalau disadari sekarang cara Tuhan bekerja membimbing perjalanan menanggapi panggilan-Nya. Saat itu Pastor Paroki saya datang ke rumah dan memberitahu orang tua saya bahwa adik saya (sekarang sudah berkeluarga) tidak lulus untuk ikut tes masuk Seminari Menengah di Palembang. Alasannya sepele, yaitu usia masih belum memenuhi syarat dan badan pendek. Ini saya ketahui karana saya bertanya kepada ibu saya berkenaan dengan kedatangan Pastor Paroki. Kemudian tanpa saya sadari ada keingintahuan lebih lagi mengenai apa seminari itu. Maka, tanya-tanya berlangsung di antara saya dan ibu. Berjalannya waktu kemudian saya tertarik untuk ikut langkah adik saya. Tanpa sepengetahuan orang tua saya datang kepada Pastor Paroki tadi untuk menyatakan keinginan saya ikut tes ke Seminari Menengah di Palembang. Saya ingat waktu saya mendaftarkan diri tinggal seminggu dan ini saya lihat sebagai cara Tuhan melicinkan jalan panggilan saya, walaupun saya buta sama sekali dengan kehidupan seperti apa di seminari itu. Yang saya tahu itu adalah tempat pembinaan calon imam. Seperti yang saya katakan di awal bahwa sungguh unik dan tidak terpahami dan terselami cara Dia membimbing. Dia “hambat” jalan adik saya ke seminari itu untuk membukakan jalan bagi saya, kendati waktunya tinggal sesaat. Tidak ada kata terlambat ketika hati sudah “terbuka” untuk Dia. Inilah yang boleh saya katakan untuk kejadian ini. Singkat cerita, saya ikut tes dan diterima di Seminari Menengah. Saya menempuh pembinaan selama 2 tahun di sana. Di seminari inilah saya mulai mengenali spiritualitas yang beraneka ragam dalam Gereja Katolik dan berbagai kongregasi dan diosesan (keuskupan).

Melalui proses yang tidak semua berjalan mulus ini, kerinduan saya sejak awal tetap tidak berubah, sekalipun di seminari diperkenalkan dengan banyak kongregasi dan diosesan. Di sini saya mulai mengenal Pertapaan Trappist Rawaseneng (OCSO) dan CSE. Trappist saya ketahui ketika saya membaca artikel tentang kehidupan para rahib OCSO di majalah Hidup. Sedangkan CSE, terjadinya saat saya mengunjungi kelas teman separoki yang sudah lebih dahulu 3 tahun masuk seminari. Saya “iseng-iseng” membuka laci mejanya. Lancang sekali saya waktu itu tanpa minta izin. Saat itu tanpa dinyana, mata saya tertambat pada satu brosur yang sederhana, saya ambil dan mulai membacanya. Ternyata itu brosur tentang CSE. Saat itu, seperti ketika saya membaca artikel tentang Trappist, hati saya berkobar dengan apa yang apa yang dikisah pada brosur CSE itu. Kemudian tanpa banyak pertimbangan saya berkorespondensi dengan pimpinan kedua pertapaan ini. Tidak sampai sebulan saya dapat tanggapan dengan 2 surat balasan yang berisikan berita tentang kehidupan di kedua pertapaan. Hati saya makin mantap untuk bentuk kehidupan dalam pertapaan ini, walaupun saya belum dapat membayangkan seperti apa kehidupan di dalam Trappist dan CSE itu, selain yang dapat saya rasakan dengan apa yang telah saya jalani sebelum dalam batin saya saat itu. Dan, waktu itu dalam batin saya mantap ingin ke Trappist. Sementara CSE untuk masa itu tidak terlalu terpikir oleh saya.

Singkat cerita, di akhir tahun kedua, pada semester kedua, Romo Rektor Seminari mulai meminta kami untuk berkorespondensi dengan kongregasi atau diosesan yang ingin dimasuki. Tanpa berpikir panjang lagi saya langsung mengirim surat kepada kedua pimpinan pertapaan dalam waktu bersamaan. Saya  menanyakan syarat-syarat untuk dapat diperbolehkan menjadi anggota pertapaan. Tanpa saya sadari bahwa semua ini rancangan Tuhan, yaitu surat balasan kedua pimpinan pertapaan itu saya terima juga pada hari dan waktu yang sama. Antara percaya dan tidak percaya saya waktu itu. Dan, yang lebih aneh—boleh dipercaya dan boleh tidak dipercaya—sebelum kedua surat itu sampai di tangan saya, telinga saya sejak sore hari sampai surat itu di tangan berbunyi keras dan tidak pernah terjadi sebelumnya demikian. Dan, itu pertama dan terakhir saya alami. Apakah itu tanda Allah setuju dengan apa yang saya pilih atau tanda bahwa kedua pertapaan itu “baik: untuk saya kalau saya harus memilih salah satu menanggapi panggilan-Nya. Sesuatu yang tidak biasa bagi saya saat itu. Surat dari pimpinan Trappist isinya menyarankan saya harus meninjau dahulu ke pertapaan selama 1 bulan. Itu berarti setelah lulus seminari baru dapat saya buat. Waktu itu masih bulan Mei. Sedangkan surat dari pimpinan CSE meminta surat foto kopi ijazah SMA, biodata diri, foto, dan foto kopi raport SMA. Lalu saya sanggupi dengan mengirimkan semua permintaan itu dengan senang hati. Tetapi, dalam hati saya masih Trappist sebagai pilihan pertama tidak luntur. Tibalah saat Romo Rektor memanggil saya. Saat saya ditanya mau masuk ke mana, kongregasi atau diosesan, saya dengan tenang menjawab bahwa saya mau ke OCSO (Trappist). Coba terka apa komentar dari Romo Rektor seminari. Beliau mengatakan bahawa saya tidak sesuai hidup di Trappist. Alasannya di sana selalu hidup bersama dan keras. Tidak sesuai dengan karakter saya. Saya terdiam dan tidak tahu mau berkata apa untuk menanggapi komentar Romo Rektor saat itu. Sebab yang ada di benak sana hanya mau hidup dalam kesunyian dan keheningan. Romo Rektor mencairkan kebisuan saat itu dengan memberikan dua pilihan kongregasi yang kiranya sesuai dengan karakter saya itu. Pertama kongregasi Bunda Hati Kudus (BHK) dan kedua Kongregasi CSE. Saya menjawab usulan romo rektor bahwa saya tidak tahu banyak tentang BHK, sedangkan CSE saya sudah tahu. Romo rektor melanjutkan bahwa CSE ini kongregasi baru tetapi sebuah pertapaan dan ada juga karismatiknya. Saya jawab ketika beliau mengatakan CSE ada karismatik bahwa bagi saya tidak menjadi masalah (sebab saya sudah mengenali karismatik saat saya ikut Seminar Hidup Baru Dalam Roh di Palembang, tetapi saya tidak ceritakan ke Romo Rektor). Akhirnya saya mantap memilih CSE sebagai tempat pembentukan dan penghayatan panggilan Tuhan. Tepatnya saya masuk CSE sebagai postulan pada tanggal 9 Agustus 1994 sehingga sekarang ini (2014) tidak terasa sudah berjalan 20 tahun.

Sungguh luar biasa cara Tuhan membentuk dan membimbing lika-liku perjalanan menanggapi panggilan-Nya yang ditanamkan dalam kerinduan terdalam batin saya. Kerinduan yang hanya ingin hidup dalam kesunyian dan keheningan, jauh dari kebisingan dunia untuk berada selalu di hadapan hadirat-Nya. Luar biasa cara Tuhan mengatur semua itu tanpa mampu saya selami dan sadari dengan segera. Baru setelah melalui refleksi dan perenungan mendalam, saya melihat semua kebaikan, keindahan, dan kebenaran jalan-Nya bagi panggilan saya. Yang saya syukuri adalah bahwa saat saya sungguh membuka hati, maka terjadilah apa yang Tuhan mau. Hal yang menjadi hambatan adalah bagaimana menyelaraskan atau menyesuaikan apa yang kita mau dengan kehendak Allah. Demikian sharing saya akan bagaimana saya berusaha menanggapi panggilan Tuhan dalam hidup saya. Terima kasih.