Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

 

Selama hidup-Nya, Yesus selalu berpegang kepada kehendak Allah Bapa-Nya. Kehendak Bapa, itulah pedoman hidup-Nya. Segala sesuatu dilakukan-Nya sesuai dan selaras dengan kehendak Bapa. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 4:34). Kedatangan-Nya ke dunia justru hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melakukan kehendak Bapa: “kurban persembahan tidak Engkau kehendaki…Lalu aku berkata: “Sungguh Aku datang…untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:5-7). Ia telah turun dari Surga hanya dengan tujuan satu itu: kehendak Bapa. “Aku telah turun dari Surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 6:38). Karena itu Ia dapat melakukan segala pekerjaan besar yang dipercayakan Bapa kepada-Nya. Bapa sendiri pun amat berkenan kepada-Nya, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7). Dan, sebelum itu ketika Ia dibaptis di Sungai Yordan, Bapa memberikan kesaksian ini: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11).

Ketika itu bagi kita pun kehendak Allah adalah norma tertinggi hidup kita. Tak ada sesuatu yang lebih suci, tak ada sesuatu yang lebih luhur dan lebih benar daripada kehendak Allah. Kehendak Allah adalah pangkal keselamatan kita, pangkal kebahagiaan kita. Kehendak Allah adalah juga pangkal keberhasilan kita. Kehendak Allah adalah juga pangkal keberhasilan kita. Kehendak Allah adalah kebijaksanaan dan hikmat tertinggi.

Apa yang dikehendaki Allah adalah yang terbaik bagi kita, karena Allah hanya menghendaki apa yang terbaik saja bagi kita. Sejak semula Allah telah mempunyai rencana yang indah bagi kita. Karena Ia mengasihi kita, segala sesuatu yang direncanakan-Nya bagi kita adalah baik. Seperti dikatakan-Nya dalam kitab Yeremia, Ia hanya mempunyai rencana yang indah bagi kita.

“Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan penuh harapan...” (Yer 29:11).

Itulah sebabnya ketika Allah menciptakan alam semesta ini, semuanya diciptakan dalam keadaan baik. Setiap kali selesai menciptakan satu bagian, Allah memandang ciptaan-Nya dan melihat bahwa “semuanya baik” (Kej 1:10). Dan ketika Ia selesai menciptakan manusia, Kitab Suci bahkan mengatakan “bahwa semuanya amat baik” (Kej 1:31). Karena itu sejak semula rencana Allah bagi kita semuanya indah dan baik. Ia menciptakan Firdaus untuk manusia (Kej 2:8-15). Hubungan antara Allah dan manusia pun amat mesra waktu itu. Hal itu digambarkan dengan lukisan ini: “Sore hari Allah berjalan di taman itu” (Kej 3:8). Itulah rencana Tuhan bagi kita, yaitu supaya kita bahagia: baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.