Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

Selibat Sebagai Sebuah Pilihan Hidup

Dalam Gereja ada pelbagai bentuk hidup. Setiap bentuk hidup dipilih dan ditentukan oleh pilihan bebas manusia sesuai dengan panggilan hidupnya. Bentuk hidup perkawinan merupakan panggilan yang umum dipilih oleh manusia, sedangkan bentuk hidup menjadi seorang imam atau biarawan-biarawati merupakan panggilan yang khusus. Seorang pemuda baru bisa memutuskan untuk menjalani hidup membiara setelah bertahun-tahun mempertimbangkannya masak-masak. Ia menyadari bahwa panggilan hidup membiara bukanlah panggilan biasa, karena ada banyak hal yang harus ditinggalkannya: pekerjaan dan keinginannya untuk memiliki harta dan membangun sebuah keluarga seperti yang dialami orang banyak. Namun ada dorongan di dalam dirinya yang memampukan dirinya dengan penuh keyakinan berani untuk mengambil keputusan untuk memilih jalan hidup khusus ini. Akhirnya dengan memilih jalan hidup khusus ini, siapa pun harus memilih untuk menjadi selibat.

Sejak zaman para Rasul Tuhan telah memanggil perawan-perawan Kristen, untuk mengikat diri kepada-Nya secara tidak terbagi, dalam kebebasan hati, tubuh dan roh yang lebih besar. Dengan persetujuan Gereja mereka telah membuat keputusan agar hidup dalam status keperawanan “demi Kerajaan Surga” (KGK 922). Untuk menjadi selibat, siapa pun yang memilih jalan hidup khusus ini mampu dan menyadari dalam menggunakan pilihan bebasnya, dengan hati yang bebas menentukan pilihannya dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang ditanggung atas pilihannya tersebut. Di situlah mereka merelakan persekutuan suami-istri demi Kerajaan Sorga (bdk. Mat 19:12), menyerahkan diri kepada Tuhan dengan kasih tak terbagi, dan menyadari bahwa selibat ini diterima sebagai sebuah karunia Allah (bdk. Dekrit tentang Pembinaan Imam art. 10). Artinya saat memilih jalan hidup khusus ini, mereka menyadari bahwa mereka bisa memilih jalan hidup khusus ini bukan karena dipaksa atau diharuskan, tetapi dengan kerelaan dan kebesaran hati berkat rahmat Roh Kudus. Lebih dari itu, menjadi selibat sebenarnya membebaskan hati manusia (1Kor 7:32-35) sehingga ia lebih berkobar cinta kasihnya kepada Allah dan semua orang.

 

Seksualitas dan Selibat

Suatu hari saya pernah berjumpa dengan seorang Bapak yang bertanya tentang cara hidup para imam dan biarawan-biarawati. Bapak ini bertanya dengan penuh keheranan ketika dia tahu bahwa para imam dan biarawan-biarawati itu tidak menikah. Rupanya bapak yang bukan beragama Katolik ini hanya mengerti bahwa tiba saatnya setiap orang harus menikah dan membangun sebuah keluarga, sehingga bila seseorang tidak menikah berarti melanggar keluhuran dan martabat sebuah pernikahan. Tetapi tidaklah demikian dalam pemahaman Gereja kita! Dalam hubungannya dengan spiritualitas hidup kristiani, kedua-duanya dapat membawa dirinya menuju kekudusan. Dalam hubungannya dengan moralitas hidup Kristiani, kedua-keduanya merupakan cara manusia menghayati seksualitasnya.

  Seksualitas itu sendiri menyangkut seluruh keberadaan diri seseorang sebagai manusia (pribadi) yang diciptakan Tuhan dan sekaligus menyangkut segala sesuatu yang menentukan seseorang sebagai pria atau wanita. Karena diciptakan untuk dicintai Allah, di dalam diri manusia ada suatu tarikan yang memampukan manusia untuk mencari Allah menuju kepada kesempurnaan hidupnya (potentia obentialis). Sama halnya dengan perkembangan seksualitas di dalam diri manusia. Seksualitas manusia haruslah berkembang seiring dengan kesempurnaan gambar dan citra Allah di dalam dirinya. Ia bisa semakin menerima dirinya secara utuh seperti adanya seorang pria atau wanita.

  Salah satu sarana untuk mengembangkan seksualitas manusia adalah dengan menjalin relasi dengan yang lain (di luar dirinya), suatu hubungan antar pribadi, suatu relasi kasih. Relasi itu tentu saja menyangkut 4 aspek: dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan. Melalui relasi dengan yang lain inilah “saya terarah kepada kesempurnaan orang lain sehingga dalam keterarahannya ini saya diubah dan menemukan kesempurnaan kepribadian saya sendiri.” Inilah yang dimaksud dengan relasi kasih itu: kasih yang tidak mementingkan kepentingan diri sendiri, kasih yang tidak berfokus pada diri sendiri, kasih yang tidak egosentris, melainkan mendorong orang lain yang dikasihinya semakin bertumbuh dan berkembang sehingga dapat mewujudkan diri. Dengan demikian seksualitas manusia akan semakin berkembang bila terjalin relasi kasih tersebut dan untuk dapat mewujudkannya, ada dua bentuk hidup yang dapat dipilih oleh setiap orang: melalui hidup perkawinan dan melalui selibat “demi Kerajaan Allah”. Dalam hidup perkawinan, relasi kasih itu diarahkan kepada seorang pribadi yang menjadi pasangan hidupnya dan hidup dalam kebersamaan dan tanggung jawab, sedangkan dalam selibat “demi Kerajaan Allah”, relasi kasih itu diarahkan kepada Tuhan dan banyak orang. Dalam hal ini, seksualitas dan selibat sesungguhnya bukanlah hal yang bertentangan. Semakin ia mampu menghayati dan mengembangkan seksualitasnya, ia akan semakin mampu juga menghayati dan mengembangkan hidup selibatnya “demi Kerajaan Allah”.

 

Menghayati dan Mengembangkan Selibat (Love, Sexuality, and Self-Giving)

   Semua orang kristen dari status atau jajaran apapun dipanggil kepada kesempurnaan hidup kristen dan kesempurnaan cinta kasih (LG 40). Semakin berkembang dalam kesempurnaan cinta kasih, semakin ia bersatu dengan pribadi Yesus dan ikut serta dalam segala aspek kehidupan-Nya. Maka tidaklah heran bagi setiap orang kristen dalam perjalanan hidup kristennya, ia dipanggil untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan diri-Nya. Dengan mengalami Yesus secara pribadi, ia akan semakin menumbuhkan pengenalan pribadi Yesus di dalam dirinya dan sekaligus mengenal dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia tidak hanya mengenal Yesus secara mendalam, melainkan ia juga menemukan identitas, jati dirinya sendiri. Demikian juga sama halnya dengan hidup selibat yang sesungguhnya dipanggil untuk semakin sempurna di dalam cinta kasih. Oleh karena itu, untuk mencapi kesempurnaan di dalam kasih, ada pelbagai aspek yang perlu dipenuhi sehingga hidup selibat semakin dapat dihayati dan dikembangkan, sbb.:

 

1.        Kesatuan Dengan Tuhan yang Memanggil

Perjalanan hidup kaum selibat di satu sisi tidak berbeda jauh dari perjalanan hidup mereka yang dipanggil untuk menghayati hidup berkeluarga. Ada tantangan, rintangan, perjuangan entah dari diri sendiri maupun dari pelbagai faktor dari luar. Beban-beban kehidupan bila tidak diolah dengan baik bisa menghancurkan relasi dengan yang lain. Akibatnya seseorang yang mengalami hal seperti ini bisa mencari obyek lain yang lebih memuaskan dirinya (meskipun hanya sementara saja) dan bahkan bisa menghancurkan panggilan itu sendiri.

  Kaum selibat “demi Kerajaan Allah” harus selalu menyadari kebersatuannya dengan Allah (bdk. Yoh 15:1-8). Dengan bersatu dengan Tuhan, dia akan semakin sadar akan jati dirinya sebagai seorang pribadi berseksualitas yang dipanggil untuk menghayati hidup selibat. Dengan kata lain, dia akan semakin sadar akan hidup dan tindakannya sesuai dengan identitas dan panggilannya. Hal ini akan terpancar dari cara pikir, cara bertutur kata, dan cara bertindak kaum selibat itu sendiri. Meskipun semuanya itu tidak membebaskan dirinya dari kerapuhan, kelemahan insani, kesulitan, dan tantangan zaman yang harus dihadapinya. Namun seperti bejana dari tanah liat yang mudah retak, kaum selibat juga perlu mengembangkan hidup askese: suatu sarana yang membantu seseorang untuk memiliki sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan. Dengan mengembangkan hidup askese ini, kaum selibat dapat mengolah dirinya dari keinginan nafsu yang tidak teratur.

  Sebagai pribadi yang berseksualitas yang selalu sadar akan kebersatuannya dengan Tuhan, kaum selibat perlu membangun kesadaran diri, penerimaan diri secara penuh syukur akan realitas seksualitas di dalam dirinya: tubuh, perasaan-perasaan, emosi, pikiran, dan juga energi/potensi. Mereka tidak lagi menganggap bahwa seksualitas itu jahat, melainkan merupakan suatu anugerah yang luhur yang diberikan kepada setiap orang dan perlu dikembangkan dalam “relasi cinta kasih” kepada yang lain, terutama dengan Tuhan. Dengan kebersatuannya dengan Tuhan, kaum selibat perlu terus-menerus belajar untuk membawa semua yang dialaminya, dirasakannya, dan yang menjadi pergulatan hidupnya kepada Tuhan itu sendiri.

 

2.        Komunitas Tempat Kita Hidup dan Terikat

Hidup berkomunitas merupakan ciri khas hidup selibat “demi Kerajaan Allah”. Berdasarkan semangat persaudaraan para rasul, kaum selibat diundang untuk membangun komunitas persahabatan, doa, sharing, dan karya kerasulan. Karena itu penting sekali dalam sebuah hidup berkomunitas, kaum selibat perlu mengembangkan cinta, intimacy, perhatian, empathycompassion, komunikasi, kegembiraan dalam hidup panggilan dan membangun kasih dalam komunitas. Dalam berbicara soal seksualitas pun, hendaknya diberikan sebuah ruang untuk membicarakannya secara terbuka, gembira, tanpa prasangka, namun tetap menyadari adanya batas-batas ungkapan seksualitas lewat kesadaran diri dan hati nuraninya.

 

3.        Pelayanan dan Perutusan Kita Kepada Orang Lain

 

Hidup selibat “demi Kerajaan Allah” dapat diartikan juga sebagai sebuah pemberian diri kepada Gereja. Artinya panggilan yang dijalani oleh kaum selibat tidak hanya mengekspresikan kasih Allah di dalam dirinya, melainkan juga kasih-Nya kepada Gereja. Kaum selibat dipanggil untuk melayani dan menumbuhkembangkan Gereja dengan mempersembahkan diri dalam karya kerasulan Gereja itu sendiri. Melalui cara inilah, kaum selibat dapat semakin menghayati dan mengembangkan dirinya.