Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

BERDIRINYA PUTRI KARMEL

Pada suatu hari ketika Romo Yohanes Indrakusuma O.Carm masih di pertapaan yang pertama di Ngroto (Batu−Jawa Timur), berkunjunglah almarhum Romo Djajus O.Carm, salah seorang pendukung gagasan pertapaan tersebut. Ketika itu beliau berkata: “Saya rasa baik sekali seandainya ada juga pertapaan semacam ini untuk para suster.” Waktu itu Romo Yohanes tidak memberikan tanggapan apa-apa karena memang tidak terpikirkan olehnya untuk mendirikan suatu serikat para suster. Waktu itu keinginannya hanyalah menghayati suatu bentuk hidup kontemplatif Karmel dengan kelompok kecil saja. Tidak disangka-sangka bahwa ucapan tersebut kemudian hari akan menjadi suatu kenyataan.

Ketika Romo Yohanes pindah ke Ngadireso (Malang−Jawa Timur), mulailah berdatangan orang-orang yang tertarik akan cara hidup tersebut, di antaranya beberapa orang putri. Maka pada tanggal 19 Maret 1982 dua orang suster dan seorang pemudi memulai cara hidup tersebut di bawah bimbingan Romo Yohanes dan dengan demikian berdirilah Serikat Putri Karmel. Kemudian pada hari Pentakosta 1982, kelompok tersebut ditambah dengan dua orang pemudi lainnya, yang datang ke Ngadireso. Mereka menetap di sana, mengikuti cara hidup Romo Yohanes dan hidup di bawah bimbingannya.

Sesudah itu calon-calon lain mulai berdatangan dan menggabungkan diri dengan kelompok tersebut. Di bawah bimbingan Romo Yohanes, Putri Karmel pun semakin hari semakin berkembang. Cara hidup tersebut rupanya mempunyai daya tarik yang kuat, sehingga ada banyak calon yang masuk, walaupun mereka tahu bahwa serikat itu masih dalam taraf eksperimen dan belum mendapat pengakuan resmi.

Mereka ini pada dasarnya berinspirasi pada cita-cita Karmel awali, namun dipersatukan dengan Pembaruan Hidup dalam Roh (Karismatik), sehingga dalam kehidupannya terpadulah dua unsur yang saling melengkapi. Pembaruan Hidup dalam Roh membuka pengalaman Allah dalam kuasa Roh Kudus, sedangkan spiritualitas Karmel memungkinkan mereka untuk mengendapkan dan memperdalamnya. Dalam kenyataannya, kehidupan mereka diwarnai oleh keheningan dan kesunyian besar, bentuk-bentuk rumahnya pun disesuaikan dengan semangat tersebut. Seminggu sekali mereka mengadakan Misa gaya karismatik, tiap hari Sabtu mereka mengadakan persekutuan doa karismatik, dan setiap siang sebelum makan siang, mereka mengadakan puji-pujian singkat selama 15 menit. Untuk selanjutnya kehidupan mereka diwarnai oleh keheningan dan kesunyian yang besar. Seminggu sekali diadakan hari nyepi; saat itu tidak ada acara bersama kecuali Ekaristi. Pagi hari dipakai untuk pelajaran dan kerja, sore hari untuk studi serta bacaan rohani dan menyelesaikan beberapa pekerjaan lain, sedangkan malam hari dipakai untuk doa pribadi dan bacaan rohani.

Dari hari ke hari mereka boleh menyaksikan karya dan kuasa Tuhan yang begitu mulia, indah, dan mengagumkan melalui pelayanan mereka, yang menyatakan diri dalam bentuk-bentuk pertobatan dan penyembuhan lahir batin yang dialami orang-orang yang datang ke Ngadireso. Dengan penuh keharuan mereka sering mendengarkan sharing orang-orang yang telah mengalami sentuhan Allah itu.

Setelah mereka berkembang dengan cukup mantap, maka sesuai dengan cita-cita serikat, pada tanggal 1 November 1988, dimulailah Komunitas Padang Gurun, yaitu komunitas yang membaktikan diri seluruhnya untuk doa dan kontemplasi. Komunitas ini tidak memberikan pelayanan aktif sama sekali dan mereka merupakan bagian yang integral dari Serikat Putri Karmel. Hidup mereka itu bahkan lebih sunyi daripada para suster Karmelites, karena mereka tidak perlu mengurusi segala macam urusan dan juga tidak perlu melayani para tamu, karena sudah ada yang melayaninya. Mereka itu laksana Musa yang berdoa di atas gunung sementara Yosua berjuang di medan pertempuran.

 

LAHIRNYA CARMELITAE SANCTI ELIAE

Setelah para suster semakin berkembang, mulai ada pemuda-pemuda yang tertarik akan cara hidup tersebut. Pada tahun 1985 datanglah tiga orang pemuda yang mau menggabungkan diri dengan Romo Yohanes dan menempuh cara hidupnya. Maka pada pertengahan tahun 1985 menetaplah mereka di Ngadireso dan mulai mengikuti cara hidup Romo Yohanes sebagai calon. Waktu itu status mereka masih belum jelas, apakah mereka akan bergabung dengan Ordo Karmel ataukah berdiri sendiri.

Untuk sementara kelompok itu belum mengambil suatu keputusan pun. Waktu itu ada tiga alternatif yang perlu dipertimbangkan. Yang pertama ialah bergabung dengan Ordo Karmel dan berdiri di bawah provinsi, sesuai dengan keputusan kapitel Karmel. Yang kedua ialah untuk bergabung dengan Ordo, namun minta berdiri langsung di bawah Jenderal, hal yang pernah disinggung dalam pembicaraan sebelumnya dengan pimpinan provinsi Karmel, tetapi mungkin agak sulit. Yang ketiga ialah berdiri sendiri, artinya membentuk suatu serikat baru yang otonom, lepas dari Ordo Karmel. Mereka berdoa dan mohon bimbingan Tuhan sebelum mengambil suatu keputusan. Akhirnya, setelah banyak berdoa dan mengadakan penegasan rohani, jelaslah bagi mereka semua, bahwa mereka harus mengambil alternatif yang ketiga, yaitu berdiri sendiri, lepas dari Ordo Karmel. Maka pada tanggal 20 Juli 1986 berdirilah sebuah serikat baru yang otonom dan mengambil nama Carmelitae Sancti Eliae, disingkat CSE, artinya Para Karmelit dari Nabi Elia. Kemudian hari, ternyata memang tepatlah keputusan tersebut.

Sesudah itu mulailah calon-calon lain berdatangan dan menggabungkan diri dengan kelompok baru tersebut. Mereka menempati bagian terpisah dari Pertapaan Karmel Ngadireso. Di situlah mereka dibimbing Romo Yohanes dan juga mereka itu diikutsertakan dalam pelbagai macam pelayanan, sehingga mereka pun mulai berkembang pula.

 

CSE PINDAH KE JAWA BARAT

Seperti sudah dikatakan di atas, Putri Karmel dan CSE menggabungkan spiritualitas Karmel awali dengan Pembaruan Hidup dalam Roh. Akan tetapi, justru hal inilah yang menimbulkan kesukaran, lebih-lebih karena mereka juga membuat banyak orang datang ke Ngadireso. Ada yang merasa senang dan ada yang kurang senang, bahkan ada pula yang iri. Namun, mereka yang datang dan tinggal di sana, baik awam, religius, maupun imam, umumnya mendapat kesan yang baik sekali, sehingga Ngadireso benar-benar menjadi “tanda perbantahan”.

Saat itu muncul konflik suara hati dan tafsiran antara pihak Keuskupan dan Pertapaan. Pihak Keuskupan waktu itu merasa harus menjalankan kewajibannya dengan melarang pengintegrasian kedua spiritualitas itu, sedangkan pihak Pertapaan merasa, bahwa mereka harus mempertahankan identitasnya. Lagipula, dalam hal itu Pertapaan mendapatkan dukungan dari banyak umat, religius dan imam, bahkan ada juga uskup-uskup yang mendukungnya.

Konflik “suara hati” ini akhirnya memuncak. Maka saat itu mengertilah Romo Yohanes tanpa keraguan sedikit pun juga, bahwa memang rencana Tuhan, bahwa ia harus mengalami nasib Yusuf yang dijual ke Mesir dan harus meninggalkan Keuskupan Malang. Juga dengan suatu cara yang tidak dapat diterangkan, mengertilah dia, tanpa keraguan sedikit pun juga, bahwa yang perlu pindah hanyalah dia sendiri bersama para frater CSE.

Keyakinan itu begitu pasti, sehingga dengan hati yang tenang dan penuh damai, saat itu juga ia memutuskan untuk meninggalkan Keuskupan Malang dan membiarkan para suster sendirian di Ngadireso, karena dia juga merasa, bahwa mereka sudah mampu berdikari.

Penjajagan-penjajagan pun mulai dilakukan. Ketika Romo Yohanes menghadap Bapak Uskup Bogor serta menceritakan semua peristiwa, termasuk juga pengalaman rohaninya itu, Mgr. Ignatius Harsono dengan tenang berkata: “Saya ini seperti Gamaliel: ‘Kalau itu semua hanya usaha manusia belaka, akan bubar dengan sendirinya, tetapi kalau itu dari Allah asalnya, walaupun manusia berusaha merintanginya, akan jalan terus.’ Oleh sebab itu bila Romo mau pindah ke Keuskupan kami, kami terima dengan tangan terbuka.” Akhirnya setelah mempertimbangkan segala kemungkinan dengan masak, melalui doa dan proses penegasan rohani, keputusan jatuh ke Keuskupan Bogor.

Rupanya juga di sini Allah berkarya pula di dalam kelemahan dan melalui kelemahan manusia. Di sini terbukti kebenaran sabda Tuhan yang diungkapkan Paulus, bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm 8:28). Akhirnya melalui segala kejadian itu kita hanya dapat mengagumi kebesaran Allah yang tidak membiarkan diri dihentikan oleh kelemahan dan dosa manusia. Seandainya tidak ada peristiwa itu, Pertapaan Shanti Bhuana di Cikanyere beserta Lembah Karmelnya tidak akan pernah ada. Terpujilah Allah dalam misteri-Nya yang tidak dapat diselami itu.

Maka pada tanggal 14 Desember 1988, hari Pesta Santo Yohanes dari Salib, Misa yang pertama dipersembahkan di pertapaan yang baru itu dalam segala kesederhanaannya. Pujian dan ucapan syukur bermunculan dari hati dan mulut para penghuni pertapaan baru itu. Hati mereka dipenuhi rasa syukur kepada Allah yang telah menyelenggarakan segala sesuatu dengan begitu nyata lewat banyak umat yang digerakkan-Nya.

Sementara itu, pembangunan terus berjalan dan umat pun mulai berdatangan dari pelbagai tempat. Dalam waktu yang singkat pertapaan baru itu sudah ramai dikunjungi orang. Mereka pun terus berkembang serta dapat melakukan segala kegiatannya dengan bebas, tanpa hambatan. Dengan demikian para penghuni mendapat peneguhan, bahwa perpindahan itu sungguh merupakan suatu penyelenggaraan Allah dan suatu berkat tersembunyi. Seandainya tidak terjadi peristiwa yang menyakitkan itu, Cikanyere dengan segala berkatnya yang melimpah untuk sekian banyak umat, tidak akan pernah ada. Tuhan telah mengubah kepahitan menjadi kemanisan. Dengan mengenang masa lampau, nada yang muncul dalam hati hanyalah nada kagum dan syukur saja atas penyelenggaraan Allah yang mengagumkan dan tidak dapat diselami itu.

 

CSE DAN PUTRI KARMEL SESUDAH PERPISAHAN

1. CSE di Pertapaan Shanti Bhuana

Pertapaan Shanti Bhuana terletak di daerah perbukitan yang indah dengan ketinggian sekitar 800-950 meter dan dengan iklim yang nyaman pula, tidak terlalu sejuk, tetapi juga tidak terlalu panas. Tempatnya sunyi serta tidak banyak debunya dan keindahan alamnya sungguh membantu orang untuk berdoa dan kontemplasi. Nama Shanti Bhuana sendiri sebenarnya berarti Bumi Damai, suatu nama yang diberikan oleh salah seorang umat yang datang di Ngadireso, serta yang menemukan damai dan kasih Tuhan di tempat itu. Karenanya Ngadireso dinamakannya Bumi Damai. Nama itu akhirnya dipilih untuk mengungkapkan cita-cita pertapaan, supaya pertapaan itu sungguh-sungguh dapat menjadi Bumi Damai bagi banyak umat yang datang ke tempat itu. Dalam waktu yang singkat umat mulai berdatangan ke tempat yang baru itu.

Komunitas CSE juga terus berkembang dan beberapa dari antara para frater harus mulai studi Filsafat dan Teologi untuk mempersiapkan diri bagi imamat. Kemudian diputuskan untuk mendirikan rumah studi di Malang yang berdiri hingga hari ini. Demikianlah dari ke hari mereka hanya dapat bersyukur kepada Tuhan, karena kebaikan dan penyelenggaraan-Nya yang mengagumkan.

Pada tanggal 13 Juni 1990, di hari Pentakosta, Bapak Uskup Bogor, Mgr. Ignatius Harsono, berkenan memberikan pengakuan resmi kepada CSE sebagai suatu serikat Gerejani, walaupun masih pada tahap awal, yaitu sebagai sebuah Associatio Publica. Namun yang penting bagi CSE ialah, bahwa mereka telah mendapatkan pengakuan tersebut. Dalam hal ini mereka mendahului saudari sulungnya, para suster Putri Karmel di Ngadireso, yang mendapatkan pengakuan baru satu setengah tahun kemudian. Dari hari ke hari mereka terus berkembang. Cukup banyak pemuda yang tertarik pada cara hidup tersebut, sehingga tiap tahun cukup banyak yang masuk. Walaupun banyak kesukaran serta tantangan, namun CSE boleh menyongsong masa depan dengan penuh rasa syukur akan kasih dan bimbingan Allah. Dari tengah-tengah kesukaran dan tantangannya, mereka sudah boleh melihat suatu masa depan yang cerah.

Tiga tahun sesudah menetap di tempat tersebut, pelayanan para frater sudah mulai meluas ke mana-mana dan permintaan untuk pelayanan pun terus mengalir dari pelbagai macam tempat. Walaupun saat ini CSE masih merupakan sebuah tanaman kecil, namun tanda-tanda dengan jelas menunjukkan, bahwa mereka akan berkembang menjadi sebuah pohon yang besar dengan suatu misi yang jelas dan besar pula. Saat ini pelayanan para frater sudah mulai meluap keluar batas-batas pulau Jawa, bahkan sudah mulai melampaui batas-batas negara pula.

Rupanya memang Tuhan memanggil mereka dan saudari sulungnya untuk suatu tugas khusus di dalam Gereja, suatu tugas untuk menghadirkan Tuhan di tengah-tengah dunia ini melalui pewartaan dan karya yang disertai tanda, kuasa dan mukjizat, serta membawa orang-orang kepada pengalaman Allah yang mendalam melalui karisma khusus yang diberikan Tuhan kepada mereka.

 

2. Putri Karmel Sesudah Perpisahan

Sebelum Romo Yohanes pindah ada orang yang berkomentar bahwa setelah ditinggalkan Romo Yohanes, Ngadireso pasti akan gulung tikar. Namun, sebelum berangkat Romo Yohanes masih menegaskan kepada mereka kurang lebih dengan kata-kata berikut: “Jangan khawatir kalau Ngadireso akan menjadi sepi dan sedikit sekali orang yang akan datang. Akan tetapi yakinlah bahwa kalian memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu bekal-bekal yang diberikan Tuhan dan yang telah kuajarkan kepada kalian. Suatu saat mereka akan kembali lagi ke Ngadireso dan kalian akan memberikan pelayanan seperti semula.”

Dan sungguh, pada bulan pertama sesudah ditinggalkan Romo Yohanes, Ngadireso menjadi sepi sekali, suatu kontras dengan biasanya di mana banyak umat yang datang. Kontras itu begitu menyolok sampai-sampai ada sebuah majalah di Surabaya yang menulis dengan judul: “Setelah ditinggalkan Romo Yohanes, Ngadireso kembali menjadi semak belukar. Ada juga suster yang berkata: “Sekarang seluruh Ngadireso menjadi komunitas Padang Gurun, menjadi komunitas kontemplatif murni.” Namun pada bulan kedua, orang sudah mulai berdatangan kembali dan perlahan-lahan orang mulai menyadari, bahwa yang berkarya di Ngadireso sesungguhnya bukanlah Romo Yohanes, melainkan Allah melalui dia. Kalau Allah yang berkarya, maka Allah juga dapat menggunakan para suster untuk melakukan karya-Nya dan sesungguhnya itulah yang terjadi. Retret-retret pun mulai dibanjiri orang lagi. Perlahan-lahan orang semakin melihat karya Allah melalui para suster. Dalam tahun kedua jumlah orang yang datang untuk ikut retret yang diselenggarakan para suster pun menjadi begitu banyaknya, bahkan jauh lebih banyak daripada sewaktu Romo Yohanes masih ada di sana, sehingga tempat pun tidak memadai lagi. Tidak jarang, bahwa yang ingin ikut retret begitu banyaknya, sehingga mereka terpaksa tidur di mana saja: di ruang cuci, di garasi, di kamar makan. Mereka yang terpaksa ditolak karena tidak ada tempat, sering berkata: “Tidurnya di mana saja, asal dapat ikut retret.”

Suatu bentuk pelayanan yang perlu disebutkan secara khusus, yang dilakukan di Ngadireso, ialah Camping Rohani untuk muda-mudi. Camping itu sebenarnya ialah semacam retret yang disesuaikan dengan kebutuhan muda-mudi dan dengan cara yang agak bebas. Sebagian tidur di tenda-tenda dan sebagian tidur dalam ruangan-ruangan wisma yang tersedia. Hal itu dilaksanakan karena keprihatinan terhadap situasi banyak muda-mudi. Camping pertama dimulai pada tahun 1986 dengan jumlah 125 orang dan tahun berikutnya jumlah mereka berlipat ganda menjadi 240 orang. Jumlah itu semakin hari semakin besar, hingga pada tahun-tahun terakhir ini, jumlah tersebut setiap kalinya sudah melampaui 1200 orang. Dalam camping itu mereka boleh menyaksikan pertobatan-pertobatan yang mengesankan, perubahan hidup anak-anak yang cukup menyolok.

Di samping pelayanan di dalam pertapaan, yang merupakan pelayanan pokok mereka, permintaan pelayanan dari pelbagai tempat pun mengalir, sehingga beberapa suster tiap tahun menjelajah sudut-sudut tanah air untuk pelayanan tersebut. Tahun 1992 mereka pun mulai memberikan pelayanan sampai ke luar negeri, karena sudah mulai dikenal di sana pula. Dengan demikian terpisahnya CSE dari Putri Karmel justru menjadikan keduanya semakin dewasa dan berkembang serentak demi pelayanan umat Allah di dalam Gereja. Juga dalam hal ini nyata, bagaimana Allah mengubah sesuatu yang pahit menjadi berkat bagi banyak orang. Lagipula seperti yang disabdakan-Nya dalam Yesaya: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu. Jalanmu bukanlah jalan-Ku. Sebab seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9).

Di samping pelayanan, jumlah para susternya pun terus bertambah dari hari ke hari. Dalam waktu yang cukup singkat mereka telah mampu berdikari dalam segala hal, baik dalam hal pelayanan, pembinaan para calon, maupun dalam hal finansial, sehingga hal itu sungguh memberikan penghiburan tersendiri. Selama ini Tuhan dengan cara yang mengagumkan senantiasa mencukupi segala kebutuhan mereka, bahkan mereka juga mampu memperluas bangunannya.

Setelah perkembangan itu, akhirnya mereka merasakan, bahwa saatnya telah tiba untuk mengembangkan sayap ke tempat lain di luar keuskupan Malang. Pilihan jatuh pada keuskupan Ruteng dan Bogor. Maka pada tahun 1992 dibukalah sebuah cabang baru di keuskupan Ruteng, Flores. Di sana para suster berkeliling dari paroki ke paroki di seluruh keuskupan untuk membimbing retret bagi umat dan permintaan untuk retret pun terus mengalir, hingga hari ini. Saat ini, sudah ada sebuah rumah retret Putri Karmel di pinggiran kota Ruteng sendiri.

Sementara itu pada tanggal 2 Februari 1992, Uskup Malang yang baru, Mgr. H.Y.S. Pandoyo O.Carm, telah berkenan memberikan pengakuan resmi kepada Putri Karmel menjadi suatu serikat Gerejani serta meneguhkan karismanya yang diberikan Tuhan untuk pelayanan dalam Gereja. Dengan pengakuan tersebut, eksistensi Putri Karmel dengan bentuk hidupnya yang khas dan karismanya yang khusus, yang mempersatukan spiritualitas Karmel dan Pembaruan Hidup dalam Roh, diakui dan mendapat hak hidup dalam Gereja. Dan 10 tahun kemudian, 2 Februari 2002, oleh Bapak Uskup yang sama, Serikat Putri Karmel dinyatakan resmi menjadi serikat diosesan. Akhirnya perjalanannya yang berduri itu berakhir dengan mekarnya sebuah bunga yang indah dan kini dengan kemantapan baru Putri Karmel mengayunkan langkahnya menyongsong masa depan, masa yang baru.

Sesudah itu Tuhan terus menyertai mereka dalam meluaskan sayapnya ke pelbagai tempat, untuk memenuhi panggilan Tuhan dan kebutuhan umat. Pada tahun 1994, lewat penyelenggaraan Tuhan yang mengagumkan, Putri Karmel dapat membeli sebuah rumah di kota Malang yang kemudian dijadikan sebuah rumah studi untuk para suster yang belajar di Malang. Pada tahun 1995, sebuah cabang dibuka di Cikanyere, Keuskupan Bogor, di mana para suster mengelola sebuah rumah retret besar, Lembah Karmel, bersama para frater CSE. Kemudian pada tahun 1997, dua cabang dibuka sekaligus, yaitu di Medan dan di Keuskupan Keningau, Sabah−Malaysia Timur. Berbeda dengan cabang-cabang lain, Sabah, karena situasinya yang khusus, juga membuka novisiat sendiri untuk menampung para calon dari Sabah dan bagian lain dari Malaysia. Juga di Sabah para calon terus berdatangan, sehingga masa depan mereka di sana cukup cerah dan menjanjikan.

Selama ini bukti-bukti telah menyatakan dengan jelas, bagaimana Tuhan telah menyertai mereka selama perjalanan hidup mereka yang penuh tantangan itu. Maka sekarang Putri Karmel sebagai keseluruhan, sambil terus bersandar pada Tuhan, dapat melangkahkan kakinya dengan mantap sambil menyongsong masa depan yang penuh harapan.