Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

Putri Karmel dan Carmelitae Sancti Eliae menghayati perpaduan dari dua spiritualitas besar, yaitu spiritualitas Karmel dan Pembaruan Hidup dalam Roh. Kedua spiritualitas besar ini bukanlah dua hal yang bertolak belakang, perpaduan keduanya menjadi suatu perpaduan yang unik.

 

Spiritualitas Karmel

Putri Karmel dan CSE berinspirasikan oleh cita-cita Karmel awali, seperti yang dihayati oleh para pertapa di Gunung Karmel. Seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita Karmel awali ini mengalami berbagai macam bentuk tafsiran dan penghayatan yang dituangkan dalam berbagai macam serikat religius dewasa ini, seperti yang dituangkan dalam uraian tentang keluarga besar karmel.

Putri Karmel dan CSE merasa dipanggil untuk menghayati cita-cita para pertapa dari Gunung Karmel tersebut sesuai dengan inspirasi dan karisma yang diterimanya dari Tuhan, demi pelayanan umat Allah seluruhnya. Putri Karmel dan CSE merupakan suatu perwujudan baru dari cita-cita Karmel awali, suatu tafsiran baru dari cita-cita Karmel yang Abadi.

Tokoh-tokoh penting dalam keluarga Karmel

a.    Bunda Maria

Menurut kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, Allah telah mengikutsertakan Santa Perawan Maria secara istimewa dalam rencana keselamatan-Nya. Itulah yang menjadi dasar penhormatan kita yang khusus kepada Santa Perawan Maria. Pada waktu malaikat membawa kabar gembira kepadanya, Bunda Maria telah menerima dalam hati dan tubuhnya Sang Sabda Allah, sehingga dengan demikian memberikan kepada dunia Sang Hidup sendiri, Oleh sebab itu Gereja mengakui sebagai Bunda Allah dan Bunda Penyelamat. Maria telah diselamatkan secara istimewa dan dipersatukan dengan mesra dengan Putra-Nya, karenanya juga menjadi puteri yang paling dikasihi oleh Allah Bapa serta kenisah istimewa Roh Kudus. Oleh iman dan cintanya, ia ikut melahirkan di dalam Gereja orang-orang beriman yang merupakan anggota Tubuh Kristus.

Sejak semula para pertapa, baik dari Gereja Timur maupun Barat, tiada henti-hentinya melambungkan madah pujian baginya. Demikian pula dalam tradisi Karmel, Maria mendapat penghormatan yang istimewa. Hal ini pun dihayati dalam kehidupan Putri Karmel dan CSE.  Bentuk penghormatan khusus kepada Bunda Maria, a.l. tiap hari Sabtu, kecuali kalau ada pesta lain, Ekaristi selalu dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria. Setiap hari, sesudah ibadat pagi dan sore, selalu dilambungkan madah syukur untuk Bunda Maria. Di samping itu pada kesempatan-kesempatan lain masih ada ungkapan lain pula.

Maria telah mendapatkan rahmat istimewa dari Allah, ia telah dikandung tanpa noda dosa asal, dalam dirinya segala sesuatu secara utuh dan murni terarah kepada Allah. Sejak permulaan, Maria telah diangkat dalam suatu tingkat persatuan dan kontemplasi yang amat luhur, seluruh gerak jiwanya secara utuh dan total digerakan oleh Roh Kudus sendiri. Bunda Maria penuh rahmat, dan karenanya malaikat memberi salam yang begitu indah kepadanya (Luk 1:28-30), dan Elizabeth pun oleh dorongan Roh Kudus dengan jelas mengenali martabat Maria yang amat luhur (Luk 1:41-43).

Maria merupakan teladan iman yang mendalam dan kerendahan hati yang besar. Roh dan hatinya, seluruhnya terarah kepada kehendak Allah: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menuruh perkataanMu” (Luk 1:38). Dalam semangat keibuannya, Maria mengambil bagian dalam Kurban Salib Putranya untuk keselamatan dunia, karenanya kita harus meneladaninya, menghayati semangatnya, dan memasuku hubungan yang mendalam dengannya.

Hubungan mendalam dengan Maria bukanlah pertama-tama soal perasaan, melainkan buah dari suatu kontemplasi penuh cinta dan iman, yang akhirnya membawa kita masuk lebih jauh lagi ke dalam misteri persatuan dengan Kristus dan Bapa. Dengan sendirinya hubungan yang mesra ini mendorong kita untuk meneladan dan menjadi serupa dengannya.

Maria dipenuhi rahmat jauh melebihi segala manusia dan malaikat, dan karena itulah ia tampil secara tidak mencolok sama sekali. Ia mendampingi Putranya secara diam-diam, tanpa menonjolkan diri. Setelah Yesus wafat disalib, walaupun Maria melampaui semua rasul, ia membiarkan mereka tampil dan memimpin. Ia hanya mendampingi dan mendukung dari belakang dengan doa dan berkatnya. Bersama para rasul, Maria berdoa menantikan kedatangan Roh Kudus pada hari Pentekosta. Setelah itu ia tersembunyi dalam tubuh Gereja dan tidak pernah tampil lagi selama hidupnya di dunia ini. Namun Allah meninggikan dia di atas semua makhluk.

b.    Nabi Elia

Nabi Elia adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Karmel yang juga menjadi pelindung Putri Karmel dan CSE. Nabi Elia adalah insan Allah yang senantiasa hidup di hadirat Allah dan segala kegiatannya didorong oleh kehendak Allah. Elia adalah tokoh pertapa yang melewatkan hampir seluruh hidupnya dalam kesunyian di hadirat Allah. Hal ini dilakukannya karena dorongan dan tarikan Allah sendiri, dan di situlah ia mengalami kemesraan Allah serta kasih-Nya yang melampaui segala pengertian. Dalam kesunyian itu pula hubungannya dengan Tuhan semakin lama semakin menguasai hati dan pikirannya, “Vivit Dominus in Cuius Conspectu Sto ~ Allah hidup dan aku berdiri di hadirat-Nya”, demikianlah semboyang Nabi Elia yang menjadi motto hidup Putri Karmel dan CSE.

c.    Para Kudus Karmel

Sesudah Elia, tak terhitung jumlah orang-orang yang mengikuti jejaknya, meninggalkan segala kesemarakan dunia untuk mencari Tuhan dalam kesunyian dan keheningan. Para kudus Karmel telah terpesona oleh Allah, mengikuti tarikan kepada kesunyian. Di dalam kesunyian, mereka mengalami kehadiran Allah, persatuan yang mendalam dan mesra dengan Allah, mengalami dalam rohnya kemanisan kemuliaan yang datang dari atas. Dari situlah mereka telah diperbolehkan untuk mengalami hal-hal yang tak dapat diungkapkan dalam bahasa manusia. Hanya mereka yang telah mengalaminya yang akan dapat mengertinya.

Sebagian dari mereka yang terpesona oleh kuasa kehadiran Allah itu, semakin tenggelam dalam kesunyian dan keheningan, dan banyak yang selama masa hidupnya tidak dikenal sama sekali. Namun Tuhan berkenan untuk mengambil beberapa di antaranya untuk menjadi teladan sesudah wafatnya, supaya dunia mengetahui, betapa berharga bagi Allah hidup mereka itu, serta memberi teladan kepada kita supaya jangan ragu-ragu menyerahkan hidup seutuhnya untuk Allah.

Beberapa yang lain, setelah mengalami kemanisan kemuliaan surgawi dan kekuatan kehadiran Allah, didorong oleh Roh Allah sendiri untuk turun gunung dan mewartakan firman Allah serta membawa banyak orang kepada pengenalan akan Allah yang sejati. Karena mereka adalah saksi-saksi yang mengalami sendiri kuasa kehadiran Allah, pewartaan mereka benar-benar menyentuh hati umat yang mendengarnya.

Berikut ini adalah nama beberapa saudara-saudari kita yang telah mendahului kita dan menjadi pembimbing kita:

-         Santa Theresia dari Yesus, Santo Yohanes Salib, dan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus yang telah diangkat menjadi pujangga Gereja dan yang karya-karyanya menjadi pedoman bagi banyak orang yang ingin mencapai kemesraan dengan Allah.

-         Maria Magdalena de Pazzi, seorang mistika besar

-         Yohanes dari Santo Samson, seorang bruder yang buta sejak kecil tetapi menjadi seorang mistikus besar yang sangat berpengaruh dalam Reformasi Touraine, yang menjangkau seluruh Ordo Karmel.

-         Elisabeth dari Trinitas, seorang mistika tentang kehadiran Allah dalam diri kita

-         Edith Stein, dan masih banyak tokoh lainnya.

Mereka semua adalah pendoa-pendoa besar, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kontemplasi, keheningan, dan kesunyian. Sebagai bagian dari keluarga besar Karmel, Putri Karmel dan CSE ingin mengejar cita-cita yang sama. Putri Karmel dan CSE memilih cita-cita Karmel yang ganda itu, di satu pihak menjunjung tinggi hidup doa dan kontemplasi, namun tidak ragu-ragu juga untuk memberikan kepada umat, sesuai dengan dorongan Roh, apa yang telah mereka terima sendiri dalam doa dan kontemplasi, bahkan membawa orang lain kepada sumber kehidupan itu sendiri. Itulah yang dalam tradisi Karmel disebut dengan istilah “contemplationem tradere”, membawa orang lain sampai kepada kontemplasi itu sendiri

“Siang malam merenungkan hukum Tuhan dan berjaga-jaga dalam doa”, demikianlah salah satu isi dari Regula Karmel. Hal tersebut mengacu kepada teladan Yesus, yang adalah sang pendoa sejati, dalam kehidupan Yesus, dapat kita lihat Yesus seringkali menyediakan waktu untuk berdoa. Para bapa pertapa menyadari benar, bahwa itulah panggilan mereka, ”Tujuan hidup para pertapa dan kesempurnaan hati terdapat pada dalam doa yang tekun dan tiada putus-putusnya.” Putri Karmel dan CSE merasa terpanggil untuk membuka pertapaan kami bagi mereka yang rindu untuk berjumpa dengan Tuhan dalam kesunyian dan keheningan dan menghantarkan mereka kepada misteri Allah yang hadir dalam lubuk terdalam dalam dirinya. Untuk inilah, kami bersedia meninggalkan kesunyian pertapaan untuk beberapa waktu, supaya dapat menjangkau mereka.

 

Spiritualitas Pembaruan Hidup dalam Roh

Seluruh hidup orang Kristen seharusnya diarahkan kepada kehendak Allah, terlebih berlaku bagi para religius yang secara khusus mau membaktikan diri kepada Allah. Demikian pula Putri Karmel dan CSE dengan sadar mau berusaha menghayati hal itu dengan konsekuen karena kehendak Allah adalah norma tertinggi untuk seluruh hidup kami. Seperti teladan Yesus Kristus, Putri Karmel dan CSE berusaha agar pelaksanaan kehendak Bapa menjiwai seluruh keinginan, cita-cita, serta seluruh hidup kami. Seperti Maria, Putri Karmel dan CSE setiap hari merindukan terpenuhinya sabda Allah; “Terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Hal yang terpenting bukanlah pikiran, gagasan, atau cita-cita pribadi, melainkan kehendak Allah.

Untuk melaksanakan kehendak Allah, diperlukan iman yang teguh dan kuat, yang memungkinkan kita melihat apa yang tidak terlihat oleh mata jasmani, untuk menangkap apa yang tidak dimerngeri oleh budi kodrati kita. Sebab seringkali kehendak Allah tersembunyi di balik semua yang tidak kita mengerti. Kalau kita bertekad melaksanakan kehendak Allah, kita akan memiliki keyakinan bahwa Yesus Kristus akan selalu menyertai kita.

Setiap saat, baik pribadi, komunitas, maupun serikat, harus peka dan terbuka terhadap panggilan Allah yang khusus melalui Roh-Nya yang berbicara kepada kita melalui situasi-situasi khusus. “Siapa yang bertelinga hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why 2:7). Supaya peka dan mampu mendengarkan bisikan Roh itu, Putri Karmel dan CSE mau menyingkirkan segala kebisingan dari dalam hatinya, kebisingan yang disebabkan oleh macam-macam keinginan yang tak teratur. Hanya hati yang seutuhnya terarah kepada Allah akan mampu mengenali serta mendengarkan isyarat Roh Allah yang juga berbicara melalui peristiwa-peristiwa di dalam dunia dan Gereja.

Gerak dan karya Roh selalu mengatasi pikiran dan pengalaman kita. Oleh karena itu, orang harus meninggalkan segala gagasan, pikiran, dan perasaannya sendiri serta tidak boleh terikat padanya, supaya benar-benar mampu mengenali karya Roh. Putri Karmel dan CSE mau terbuka untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kategori pikir yang kita kenal, namun sekaligus tetap bersikap kritis terbuka dan mengujinya sesuai dengan norma-norma Injil.

 

 

Demikianlah penghayatan perpaduan kedua spriritualitas bersar tersebut menghayati kehidupan kami, Putri Karmel dan CSE. Perpaduan antara spiritualitas Karmel dan Pembaruan hidup dalam roh, membawa para anggotanya untuk menuju persatuan transforman dengan Allah. Dengan teladan para tokoh Karmelit, dengan terus melaksanakan doa yang tak kunjung putus, dengan berusaha untuk terus peka terhadap karunia-karunia Roh Kudus, kami berusaha untuk semakin hari menjadi sempurna seperti kehendak-Nya. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:28)