Copyright 2017 - Supported by Mediahostnet

Tujuan hidup Putri Karmel dan CSE dituangkan pula dalam pola-pola hidup tertentu. Pola-pola tersebut secara konkrit mengungkapkan semangat yang menjiwai seluruh serikat. Pola-pola hidup ini merupakan kemungkinan-kemungkinan konkrit bagi setiap anggota untuk memilihnya sesuai dengan panggilan Roh yang diteguhkan oleh kebijaksanaan pimpinan. Adapun pola-pola tersebut ialah:

 

A. POLA DASAR

Pola ini bersifat kontemplatif terbuka. Suatu bentuk hidup yang sungguh mementingkan hidup doa, bukan hanya dalam teori, tetapi juga dalam praktek, sehingga banyak waktu dilewatkan untuk doa dan kontemplasi. Doa dan kontemplasi memang dipentingkan, karena itulah napas hidupnya. Namun, dalam pola ini orang juga tetap terbuka untuk pelbagai bentuk pelayanan yang sesuai dengan karismanya. Setiap anggota harus melalui pola hidup ini. Baru sesudah itu dapat memilih salah satu pola yang lain.

 

B. POLA KOMUNITAS PADANG GURUN

Pola ini pada hakekatnya merupakan suatu bentuk kontemplatif murni, berbentuk semi eremitik, tanpa pelayanan keluar sama sekali, bahkan tanpa menerima tamu serta memberikan konseling kepada para tamu, sebab hal itu telah dilaksanakan oleh mereka yang hidup dalam pola hidup lainnya. Tugas mereka semata-mata berdiri di hadapan Tuhan atas nama dan bagi saudara-saudarinya.

 

C. POLA KONTEMPLATIF AKTIF

Pola hidup ini lebih memberikan penekanan pada pelayanan, namun tanpa melupakan pentingnya doa dan kontemplasi dalam hidupnya. Mereka juga selalu disadarkan, bahwa semakin mereka diperlukan umat, mereka semakin memerlukan Tuhan sendiri untuk dapat melalyani mereka. Karena itu, justru karena hidup dalam suatu komunitas yang multi-dimensional, mereka dapat dan bahkan diharuskan pada waktu-waktu tertentu untuk kembali ke dalam kesunyian dan keheningan untuk tinggal dalam kemesraan Allah, sesuai dengan teladan Yesus sendiri, yang di tengah segala kesibukan-Nya, masih menyempatkan diri untuk berdoa seorang diri dalam kesunyian dan keheningan gunung dan bukit. Hal itu mereka perlukan untuk menimba kekuatan baru bagi pelayanan mereka. Tanpa hubungan yang mesra dengan Allah segala pelayanan mereka tidak akan punya banyak arti. Lagipula kalau begitu ada bahaya besar, bahwa mereka tidak lagi akan mewartakan Allah serta kerajaan-Nya, melainkan diri sendiri serta pikirannya sendiri, hal mana akan merupakan suatu malapetaka.

 

 

Kekhasan Putri Karmel dan CSE ialah dalam tubuhnya ada kemungkinan-kemungkinan tersebut yang terbuka bagi semua anggotanya, sehingga seorang dapat pindah ke pola hidup yang berlainan sesuai dengan panggilan Roh, tanpa perlu keluar dari serikatnya seperti yang kadang-kadang terjadi dalam serikat lain. Dalam hal ini ada kesupelan, sebab juga mungkin terjadi, bahwa suatu ketika, seseorang setelah sekian lama dalam Komunitas Padang Gurun, akan didorong keluar oleh Roh Kudus untuk memberikan pelayanan, seperti halnya Tuhan Yesus sendiri, setelah sekian tahun lamanya tersembunyi di Nazareth keluar untuk pewartaan, atau seperti Yohanes Pembaptis yang ketika tiba waktunya dipanggil Roh keluar dari padang gurun untuk memberi kesaksian tentang Yesus. Demikian pula yang terjadi dengan Nabi Elia, yang menjadi inspiratornya, yang biasanya hidup di dalam kesunyian padang gurun atau gunung, namum kadang-kadang karena dorongan Roh keluar dan turun gunung untuk mewartakan sabda Allah. Karena itu seorang anggota Putri Karmel atau CSE dapat pindah dari satu pola hidup yang satu kepada yang lain, sesuai dengan panggilan Roh yang harus diteguhkan oleh pimpinannya.